Kamis, 01 Januari 2009

Ultah Asma

Hari ini 4 tahun yang lalu Asma masih berupa bayi merah yang terlahir dari rahimku. Masih teringat perjuangan panjang dalam proses persalinan normal. Dua kali proses persalinanku akus elalu bermasalah dengan air ketuban. Dalam persalinan Asma air ketubanku sudah kering. Dokter memvonis kalau induksi tidak berhasil maka aku harus caesar. Agak ngeri juga apalagi hemoglobinku dibawah batas normal. Tapi alhamdulillah persalinan berjalan dengan normal. Bahkan sejam kemudian aku bisa langsung beraktifitas biasa.

Kini Asma sudah 4 tahun menjadi gadis cilik yang manis, shalihah, dan pinter. Kemarin dia sempat merengek minta perayaan ultah di sekolahnya kayak teman-teman yang lain. Kami tidak menurutinya. Selain tidak ada kebiasaan merayakan rame-rame juga kami tidak sepakat perayaan ultah di sekolah. Beberapa kali saya mendengar keluhan dari orang tua yang sedih karena anaknya merengek minta ultah sedang mereka tidak mampu secara ekonomi. Saya mencoba menempatkan diri pada posisi mereka.

Sebagai gantinya kami membelikan kue ultah dan memberinya berbagai kado. Isi kadonya macama-macam. Sepatu, baju, kaos kaki, sandal., buku .... Hadiah-hadiah itu sudah dipersiapkan sejak lama. Tiap bulan saya belikan satu macam barang yang murah meriah tapi bermanfaat. Alhamdulillah Asma senang...Met ultah ya sayang...moga Allah memberkahimu selalu..


Minggu, 28 Desember 2008

bungaku sayang bungaku malang

Semenjak ditinggal nenek ( sebutan untuk mertuaku) ke malang tanaman-tanaman di rumah satu persatu mulai kritis. Padahal aku sudah mencoba merawatnya dengan baik. Menyiraminya, memberi pupuk, bahkan kadang tanaman-tanaman itu kuajak ngobrol. Atau jangan - jangan tanaman-tanaman itu ikut sedih karena aku 'curhat' soal gas yang makin mahal, soal narkoba yang makin menggila, juga wakil-wakil rakyat yang sibuk memperkaya diri. Hehehe..Nggak kok . Kadang juga aku nyanyiin dengan suara falsku.
Dalam sebulan ini sudah 2 tanaman yang mati. Pillow cardinal yang harganya bisa di atas seratus dan puring import. Aglonemanya juga mulai lemes. Butterfly si aglo yang pertama kali dibeli nenek daunnya sudah menguning dan akarnya busuk. Sirih hitamnya kemarin sempat meranggas. Setelah kucemplungin di kolam, alhamdulillah segar kembali.
Aku siap-siap aja dimarahin nenek..hehehe.. tapi yang bikin sedih tanaman-tanaman itu kan dirawat nenek dengan sepenuh cinta. Akunya mungkin yang kurang telaten. Maafkan aku ya bunga-bunga...maafin ubai ya nek..

Selasa, 23 Desember 2008

Asma , sang negosiator ulung

Siang itu sepulang dari kondangan aku dan suami ngobrol di jalan. Topiknya macam-macam sampai kemudian ke suatu topik 'sara'. Hmm bukan sara singkatan dari suku, ras, agama tapi topik ini adalah tentang masalah amanah dalam suatu organisasi yang kalau kami omongin selalu memancing perbedaan pendapat. Aku menyarankan suamiku mundur karena kesibukan kerja suamiku jadi tidak intens dalam menjalankan amanah tersebut. Akibatnya banyak suara-suara sumbang terdengar. Suamiku masih berat untuk mundur karena banyak yang menahannya.

Begitu serunya kami berdiskusi sampai intonasi suara kami terdengar seperti orang bertengkar. Dan Asma yang duduk di jok depan menoleh ke arahku. "Ummi, ayo minta maaf ke abi," katanya. " Abi juga minta maaf ke ummi. Gak boleh bertengkar lho, nanti dimarahi Allah. Ayo saliman.."
Kontan saya dan suami ketawa.
"Kita gak bertengkar kok..ini namanya diskusi.." jelas saya ke Asma
" Iya, abi dan ummi gak bertengkar kok. Ummi sih kalau ngomong keras gitu.." kata suami
" Lho..abi juga.." saya jadi manyun
Asma berdiri dan mengambil tangan saya.
" Udah..saliman ayo..."
Saya dan suami salaman sambil ketawa. Asma..Asma...

Jumat, 19 Desember 2008

Surat untuk Ibuku dan Ibu Mertuaku

Surat untuk ibuku dan ibu mertuaku

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh

Lewati rintang untuk aku anakmu

Ibu, lama nian kita tak bersua dan belum aku sempat untuk mengunjungimu lagi. Kini di saat banyak orang sibuk menggelar pesta untuk ' hari ibu' aku merasakan kerinduan yang teramat sangat. Hari ibu, ahh..ku mengerti kau tak pernah peduli dengan perayaan seperti itu bahkan tahu pun tidak.
Ibu , sembilan bulan lebih kau jaga aku di rahimku lalu kau susui aku 2 tahunan bahkan ketika engkau harus berjualan di antara panggangan matahari. Aku yang masih bayi merah kau bawa kemana-mana ke pasar, ke sawah...karena tuntutan periuk yang harus mengepul.


Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah

Ibu...perjuangan dan pengorbananmu tak ternilai harganya. Engkau adalah matahari yang selalu bersinar walau awan gelap sentiasa melukaimu dengan cobaan. Ketegaranmu menggiringku untuk selalu kuat bertahan dalam pergulatan hidup ini.

Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...ibu...ibu
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu

Entah dengan apa kumembalas semuanya. Rasulullah mengajariku dan umatnya untuk selalu memuliakan ibu. Bahkan kepada Ummu Aiman yang hanya sekali menyusui beliau, Rasulullah selalu memuliakannya. Juga kepada Halimatus Sa'diyah..Dan Allah Yang Maha Agung pun memerintahkan hamba-Nya untuk bersikap baik kepada orang tua kita. Dan sudahkan aku memuliakan engkau?? Apalagi berbuat baik kepadamu...
Ibu,aku tahu balas budi yang kau harapkan bukanlah hitungan matematis yang dikukur dengan nilai rupiah..Aku tahu engkau mengharapkan balas budi berupa akhlak..tapi sudahkah aku memenuhinya..

Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas...ibu...ibu...

Ibu, aku selalu terkenang saat menemanimu tahajud di longkang..di bawah sinar rembulan dan kerlip bintang. Kulihat betapa engkau mengharu biru menyebut setiap nama anakmu dan memohonkan keselamatannya pada Allah Yang Maha Berkuasa.
Ibu, dan kini di senja usiamu aku pun hanya mampu mengirimi doa..Cinta pun hanya terkirim lewat doa..Ibu maafkan anakmu ini yang belum mampu merawatmu di masa rentamu. Tapi yakinlah ku kan selalu mengirimi doa dan cinta.. Doa yang kupanjatkan di setiap sujudku.. dan cinta yang kukirim lewat hembus angin.. Ibu ..moga Allah memberkahimu selalu.

Senin, 24 November 2008

Lamaran

Dia bukanlah musashi
Ksatria samurai yang senantiasa menginspirasiku
Dan dia bukanlah Taiko
Pelayan berwajah monyet yang menjadi Kaisar
Dan senantiasa mengilhamiku dengan kecerdasan-kecerdasannya
Tapi bisa jadi
Dia adalah pangeranku
Yang kan merajai hatiku
Dan menyelamatkanku dari kesendirian

Setelah ta'aruf dengan keluargaku akhirnya Kang Fikri memutuskan untuk mengajak keluarganya mengkhitbahku. Sebelum 'lamaran' aku dan Kang Fikri berkomunikasi via Begin Troys. Jadi baik aku maupun Kang Fikri tidak punya nomor hp masing-masing . Dan hal ini yang jadi pemicu konflik di keluarga Kang Fikri. Ceritanya gini...

Sebelum keluarga Kang Fikri ke rumah aku disuruh kenalan dulu dengan keluarganya di penginapan. Tiba di penginapan Kang Fikri tidak ada. Aku langsung ketemu dengan calon ibu mertua dan calon kakak ipar. Awalnya calo ibu mertua ramah tapi ketika aku disuruh nelpon Kang Fikri trus aku bilang tidak punya nomor hpnya beliau jadi emosi. " Lha mau nikah kok gak punya nomor telpon masing-masing trus berkomunikasinya gimana ??" Aku jelaskan kalau kami berkomunikasi via Begin. Wah beliau tambah sewot, " Emang Begin yang mau nikah...!!" Bla..bla...duh..kesan pertama sudah menyeramkan tapi alhamdulillah lamaran berjalan sukses.

Tragedi itu belum berakhir. Rencana pernikahan kami yang awalnya tidak ada pertentnagan mulai diusik. Ibu Kang Fikri mulai mempertanyakan 'sejauh mana kami saling kenal satu sama lain'. Yang nikah setelah pacaran bertahun-tahun saja banyak yang kandas apalagi tidak kenal sama sekali. Dan setelah saya menikah saya juga tahu bahwa rencana pernikahan kami menjadi gosip hangat di tetangga ( tetangga depan dan samping rumah sudah seperti keluarga). Katanya sering sekali Ibu dan Kang Fikri bertengkar (*beda pendapat). Mulai soal undangan, seserahan...pokoknya ramai.
Selidik punya selidik ternyata Kang Fikri kurang sosialisasi soal gaya 'pernikahan' kami yang tanpa pacaran.

Sedang di keluargaku adem ayem..hehehe..maklum aku terbiasa memutuskan segala sesuatu sendiri tanpa intervensi siapa pun. Kalau aku sudah memilih jalan ya dijalani dan resiko ditanggung sendiri tapi doa orang tua senantiasa menyertai.

Selama ta'aruf dan lamaran aku menyimpan rapat prosesku dengan Kang Fikri di lingkungan teman-temanku di kampus dan di kantor. Bahkan teman-teman dekatku termasuk Merry, Rubu, dan Munif yang kukorek habis-habisan untuk cari info tentang Fikri tidak pernah curiga sedikitpun. Dan ketika kami sedang berkumpul di rumah Bu Attin. Tiba-tiba Bu Attin bicara, " Kayaknya Ubai ada kabar gembira nih..ayo cerita dong ke teman-teman.." Waduhhh..aku kaget karena gak siap dan mukaku jadi merah pias. Semua mata menatapku. Duh...Akhirnya," Saya akan menikah tanggal 21 Desember dengan Fikri Abdurahman..."
"Ubai...." Rubi berteriak..
"KOk gak cerita-cerita sih..."
Dan ternyata gosip itu juga menyebar di kalangan ikhwan. Awalnya saya kira teman-teman akhwat tadi yang nyebarain tapi ternyata penyebarnya adalah Kakak Kang Fikri yang lagi ambil S2 di Ugm...yahhh


Selasa, 18 November 2008

Foto Bareng Gola Gong

Hari ini suami ngajak kami sekeluarga ke Indonesia Book Fair di JHCC. Seneng banget deh karena dari dulu saya paling hobby datang ke pameran buku dan tanaman. Walau gak beli melihat buku-buku dan pepohonan hias mampu merilekskan pikiran.
Rupanya kami datang kepagian jadi harus nunggu pintu dibuka. Alhamdulillah Azzam dan Asma gak rewel. Suami ketemu teman kantornya. Saya duduk di kursinya Pak Satpam yang bertampang serius sambil mengamati pengunjung lainnya. Tiba-tiba mata saya tertuju satu sosok yang sepertinya sangat familiar. Saya coba mengingat-ingat tapi memorinya tetap tak muncul. Saya amati lagi postur laki-laki itu. Baru saya ingat kalau orang itu adalah Gola Gong..wajahnya mirip dengan foto yang ada di buku Balada Si Roy. Waktu SMP saya kesengsem berat dengan buku itu selain buku Musashi dan Taiko.
" Abi, tuh ada Gola Gong..," bisik saya ke suami.
"Mana...??" tanya suami.
"Tuh yang pakai koko ijo. Ummi harus beli bukunya..."

*****

Jam sepuluh kita masuk ke area pameran di JHCC. Beda dengan di Istora di JHCC tempatnya bersih dan ber-ac. Setelah beli buku cerita dan edu game untuk Asma saya nyari bukunya Gola Gong. Akhirnya dapet juga plus tanda tangan langsung dari Gola Gong. Suami dan Asma berpose bareng Gola Gong. Lumayanlah sedikit narcis..hehehe..Salutnya buku-buku Gola Gong tidak mahal. Dari situ kita muter-muter lagi. Setelah dapet buku-buku lainnya kita pulang khawatir teler..maksudnya dompetnya yang teler karena setiap melihat buku saya pasti minta dibeliin. Hehehe..
Di rumah kita mau pamer foto bareng Gola Gong ke nenek tapi foto bareng Gola Gongnya setelah dicari-cari di file hp gak ketemu. Yach...jangan-janagn kehapus saat diotak atik ama Asma. Gak jadi deh foto bareng Gola Gong...

Minggu, 16 November 2008

Ta'aruf

Waktu untuk tatap muka alias ta'aruf pun ditentukan. Jum'at sore, ba'da maghrib. Jumat sore agendaku banyak juga. Menyelesaikan kerjaan kantor yang menumpuk dan ngisi kajian pekanan.
Setelah bernegoisasi dengan teman-teman kantor akhirnya aku bisa pulang duluan. Kupacu mushasiku ke arah kampus UGM. Dan ketika sampai di sekip tiba-tiba musashi mogok. Waduh....padahal aku harus ngisi kajian setengah dua. Alhamdulillah ada bengkel di dekat tempat mogok. Pak bengkel tampak kepayahan membongkar musashi. Akhirnya dia ngaku kalau lagi belajar otak atik motor. Duh tambah lemes deh..khawatir musashi tambah parah sakitnya.
Alhamdulillah tukang bengkel yang asli datang. Diutak atik sebentar musashi pun sehat kembali.

******

Ba'da ashar aku ke rumah Mbak Iftah. Kali ini pakai motor astrea cling..modal pinjaman. Hehehe...musashi diistirahatkan. Khawatir mogok lagi. Sesampainya di Mbak Iftah aku bantu beres-beres dikit. Mbak iftah itu orangnya enak . Kalau main ke rumahnya kita diperlakukan seperti keluarga sendiri.

Akhirnya waktu yang dinanti tiba.. Di ruang tamu terdengar suara ikhwan bicara. Kupertajam kupingku..sepertinya ada suara yang sangat familiar. Kayaknya suara Begin..nah lho kok ada Begin segala..

Mbak Iftah membuka tirai pembatas. Akhirnya kami semua bertatap muka.
'Ooo ini yang namanya Fikri. Kok endut ya' pikirku
"Bagaimana kalau kita mulai," suara Pak Rinto membuyarkan kebengonganku. Kami saling bercerita dan bertanya jawab.. Aku juga ngaku kalau gak bisa masak. Maksudnya masak yang susah-susah. Kalau sekedar masak air, nasi dan sayur bayam sih bisa..Setelah cukup lama Bu iftah menanyakan apakah proses akan berlanjut atau tidak.
" Terserah Mbak Yubaidah saja...," jawab Fikri.
" Lho kok terserah saya sih...," sanggahku.
"Kalau gitu saya mau lanjut. Insyaa Allah besok Sabtu saya bersilaturahim ke orang tua anti..,"
Saya melongo. Besok..cepat amat. Aku kan belum bicara ke orang tuaku.
" Jangan besok Pak. Ahad aja. Saya butuh waktu untuk bicara ke orang tua.."

*****

Senin, 10 November 2008

Azzam bisa tengkurep

" Nek, Azzam dah bisa tengkurep sendiri..." teriak Asma pada neneknya.
Aku yang lagi asyik makan segera ke kamar dan melihat Azzam sedang asyik ngenyot pergelangan tangannya.
'Alhamdulillah..." kataku.
Sudah seminggu ini Azzam belajar tengkurap. Awalnya dia tengkurap tapi belum bisa ngatur posisi tangan. Jadi kita yang membantunya. Tapi sejak kamrin dia sudah lihai tengkurep sendiri. Malah sudah muter-muterin badan.
Alhamdulillah..terimakasih ya Allah. Lindungilah anak-anak hamba..jadikan mereka sebagai anak yang shalih dan shalihah

Tentang Fikri

"Mbak, ada akhwat yang butuh informasi tentang Fikri Abdurachman-sipil 96. Kasih infonya ya " Sms itu kukirim ke Merry Hastuti, sahabatku sekaligus teman sejurusan Fikri Adurachman di Tehnik Sipil UGM. Kebetulan Mbak Merry juga sedang mempersiapkan pernikahannya dengan dr.Agus Wiyono di Bengkulu. Sms itu cukup diplomatis tanpa perlu menyebutkan jati diri 'akhwat' yang butuh informasih.
Kutunggu-tunggu tak ada juga balasan dari Mbak Merry. Mungkin dia lagi sibuk berat. Sore hari ba'da maghrib terdengar dering pesan masuk di HP Ericksonku. Oh ya HP Ericson ini kubeli sangat murah dari Nanang ( suami Ririn ), hanya 100 rb. Walau HPnya gedhe banget tapi bandel. Berkali-kali jatuh tidak rusak. Dan lumayan bisa untuk senajta bertahan kalau ada orang jahat. Kubuka HP-ku. 'New Message'. Hmm..dari Merry. Kubaca isinya..."Fikri itu baik,lucu dan gaul" Bik,lucu dan gaul...kurang diskriptif. Kalau aku nanya-nanya lebih detail gak enal kayaknya karena Merry lagi sibuk.

********

Akhirnya info lebih detail kudapat dari Munif. Ngoreknya pun harus muter-muter ngomongin soal KAMMI dulu. Eh..trus nyangkut juga tentang Fikri.
"Mbak, Bendahara Komsat UGM dulu kalau diundang dana usaha KAMDA kok jarang datang ya.." pancingku.
"Oh itu si Fikri." jawab Munif.
"Yang mana sih Mbak orangnya.."
"Lho kamu gak tahu tho.. Wong akhwat-akhwat suka geli kalau ingat pas Fikri jadi pjs KOMSAT..."
Beneran kata Mbak Merry kalau Fikri orangnya lucu.
" Mungkin saking pusingnya mikirin KOMSAT, dia itu pernah rapat kayak orang belum mandi. Rambutnya acak-acakan , tampangnya kumel..." Munif ketawa geli.
Waduh...
"Tapi orangnya amanah, mungkin pas diundang KAMDA dia lagi sibuk jadi gak bisa datang"
Lumayanlah dapat tambahan info lagi. Selain itu aku juga mengorek keterangan dari akhwat lain. Sebenarnya sih banyak ikhwan yang bisa dikorek infonya tapi gak pedelah. Ada Pipit alias Fitrian ( Suaminya BundaSalmawafa ), Begin, Memet...

*******

Setelah info dirasa cukup dan istikharah aku mantap untuk melanjutkan proses. Kutelpon Bu Iftah untuk memberitahu keputusanku.

Kamis, 06 November 2008

BioData

Siang itu pekerjaan kantor sedang menumpuk, belum lagi harus membantu Mas Zubed untuk membuat persiapan teknis untuk rapat dengan anggota DPRD, Pemda dan LSM lainnya. Tiba-tiba telpon kantor berdering. Dengan cepat kuangkat.
" Daya Prosumen Mandiri, selamat siang.." kataku .
"Assalaamu'alaikum. Bisa bicara dengan Mbak Yubaidah.." sebuah suara yang sangat kukenal terdengar di ujung telpon.
" Wassalamu'alaikum warahmatullah. Saya sendiri. Ini Bu Iftah ya.." jawabku.
"Iya . Bisa tidak nanti sore anti ke rumah. Ada yang ingin saya bicarakan.."
" Insyaa Allah Bu..." jawabku. Setelah telpon ditutup aku jadi bertanya-tanya kira-kira ada apa kok Bu Iftah ingin mengajakku bicara sore ini juga. Padahal besok Jumat aku juga ke rumahnya. Jangan-jangan ada masalah serius denganku...tapi tentang apa. Bingung deh.


*****
Sorenya aku segera memacu 'musashi'-bebek tuaku yang jago ngadat ke rumah Bu Iftah di Minomartani. Sesampai di sana ternyata anak-anak Bu Iftah sedang sakit, beliau tampak agak repot. Aku menawarkan diri untuk membantu tapi tampaknya beliau ingin cepat-cepat bicara.
" Mbak Ubai, kenal dengan Fikri Abdurachman tidak ??" tanyanya setelah kami duduk di ruang tamunya. Fikri Abdurachman, rasanya aku pernah dengar nama anak itu. Oh ya, aku ingat dia pengurus KAMMI Komisariat UGM.
" Tahu sih iya Mbak tapi kenal secara langsung tidak.." Aku memang pernah beberapa kali ada dalam satu forum dengan Fikri tapi tidak pernah bicara secara pribadi. Wajahnya saja sudah agak lupa kayak apa.
"Ada pa sih Mbak. Urusan dakwah kampus ya ??" tanyaku menebak. Setahuku Fikri sudah lulus dan tidak berdomisili di Jogja lagi.
Bu Iftah hanya tersenyum sambil mengulurkan amplop putih padaku.
"Ini biodata Fikri Abdurachman. Lihat dulu dan istikharah. Kalau ada kemantapan untuk lanjut ta'aruf nanti bilang ke saya..."
Aku terkejut. Biodata???
"Saya kasih waktu 2 minggu ya agar tidak kelamaan..Bismillah aja ya.." Saya mengangguk sambil terbengong-bengong. Jujur saja saya belum siap untuk ta'aruf. Dan Fikri Abdurachman ?? Saya tidak tahu banyak tentangnya..Saya harus jadi detektif nih untuk mengorek keterangan tentang Fikri. Teman-teman tak boleh sampai ada yang tahu. Iya kalau nanti lanjut kalo gak kan tengsin..


Rabu, 05 November 2008

Kisah Nabi Musa as

Musa ‘Alaihis Salam merupakan Nabi Bani Israil teragung. Syari’at dan kitabnya, Taurat, merupakan rujukan seluruh nabi-nabi dari kalangan Bani Israil dan ulama mereka. Pengikut beliau, juga termasuk yang terbanyak setelah ummat Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Sallam. Beliau lahir saat Fir’aun melakukan penindasan yang sadis terhadap Bani Israil. Bayi laki-laki mereka yang baru lahir dibunuh dan kaum wanita ditindas dengan menjadikannya sebagai pengabdi kaum laki-laki dan sasaran penghinaan.

Ketika lahir, ibunda beliau merasa was-was, khawatir anaknya jatuh ke tangan Fir’aun, sebab hal itu bukan mustahil terjadi, mengingat penguasa yang diktator ini banyak mengirim mata-matanya ke seluruh penjuru negeri, khususnya untuk menyelidiki aktivitas kaum wanita Bani Israil yang hamil dan jenis kelamin bayi-bayi mereka yang lahir. Dan apabila yang ditemukan adalah bayi laki-laki, maka dibunuh.

Secara kebetulan, rumah keluarga beliau ditakdirkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala terletak di dataran yang menjorok ke Sungai Nil. Alloh Subhanahu wa Ta’ala memberikan ilham kepada ibundanya, agar meletakkan sang anak ke dalam peti, lalu dihanyutkan ke laut, sembari mengikatnya dengan tali agar tidak dibawa oleh arus air yang deras. Tetapi, sebagai kasih sayang Allah terhadap ibundanya, Alloh Subhanahu wa Ta’ala mewahyukan kepadanya, yang artinya “Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa ; “Susuilah dia dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan jangan (pula) bersedih hati, karena sesungguh-nya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul”. (QS: Al-Qashash: 7)

Pada suatu hari, tatkala sang ibu menghayutkan peti yang berisi sang bayi tersayang ke laut, tiba-tiba tali pengikatnya lepas, sehingga terbawa oleh arus. Rupanya, Alloh Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan peti tersebut jatuh ke tangan keluarga Fir’aun, kemudian diserahkan kepada isteri Fir’aun, Asiah.

Saat melihat rupa bayi tersebut, dia sangat senang sekali. Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah menumbuhkan rasa cinta di hati orang-orang terhadapnya, sehingga berita tentangnya pun tersiar ke seluruh pelosok negeri. Juga, tak ayal berita itu pun sampai ke telinga Fir’aun lalu dia mengirimkan bala tentara untuk menyelidiki dan membunuhnya. Namun, sang istri yang baik hati, memintanya agar tidak membunuh sang anak, sebab dia begitu menyenangkan dan siapa tahu kelak bisa berguna dan benar-benar menjadi anak mereka berdua. Karena bujukan sang istri, sang bayi itu pun selamat dari pembunuhan.

Saat yang sama istri Fir’aun sendiri cepat tanggap dalam memberikan layanan terhadap sang bayi. Dia mengundang para penyusu bayi dari pelosok negeri dan meminta mereka mencoba untuk menyusui sang anak, tetapi tak satu pun dari mereka yang bisa melakukannya. Karena bingung, mereka membawanya ke luar untuk berjalan-jalan dan berharap Alloh Subhanahu wa Ta’ala mempertemukannya dengan seseorang yang tepat. Dan akhirnya, melalui saudara perempuan Nabi Musa ‘Alaihis Salam sendiri ia menemukan penyusu yang (juga) tak lain adalah ibu kandung sang bayi.

Terkait dengan kisah Nabi Musa ‘Alaihis Salam, di sini akan dipaparkan lima belas pelajaran penting yang dapat dipetik dari sekian banyak pelajaran penting lainnya. Diantara pelajaran-pelajaran tersebut adalah:

  1. Kasih sayang Alloh Subhanahu wa Ta’ala terhadap ibu nabi Musa ‘Alaihis Salam. Di antara tanda-tanda kasih sayang tersebut: Pertama, Alloh Subhanahu wa Ta’alaSubhanahu wa Ta’ala menyelamatkan anak kesayang-annya yang dibawa arus Sungai Nil. Kedua, Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan berita gembira bahwa Dia akan mengem-balikan sang anak ke pangkuan ibundanya lagi. Ketiga, Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan air susu wanita-wanita penyusu lainnya masuk ke mulut anaknya yakni sang bayi, padahal dia sangat membutuhkan air susu tersebut. memberikan ilham kepada ibunda Nabi Musa, sehingga dengan cara itu Alloh
  2. Bahwa tanda-tanda yang diberikan oleh Allah dan pelajaran yang dapat diambil dari umat-umat terdahulu hanya bisa diraih oleh orang-orang yang beriman, sebagaimana Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir’aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman”. (QS: Al-Qashash: 3)
  3. Bahwa apabila Alloh Subhanahu wa Ta’ala menghendaki sesuatu, Alloh Subhanahu wa Ta’ala akan menyediakan sebab-sebabnya dan akan mendatang-kannya secara bertahap, bukan sekaligus.
  4. Umat yang lemah betapa pun kondisi lemahnya, tidak semestinya diliputi oleh kemalasan di dalam merebut kembali hak-haknya, apalagi sampai berputus asa untuk meraih hal yang lebih tinggi, khususnya bila kondisi mereka terzhalimi.
  5. Bahwa selama umat ini terhina dan tertindas, namun tidak bergerak menuntutnya, maka tidak mungkin dapat menjalankan urusan agamanya secara bebas. Demikian pula dengan urusan duniawinya.
  6. Bahwa ketakutan yang bersifat alami terhadap makhluk, tidak menafi-kan keimanan, apalagi menghilangkan-nya. Hal inilah yang terjadi terhadap Ibunda Musa dan Musa sendiri.
  7. Bahwa iman bisa bertambah dan berkurang berdasarkan firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah)” (QS: Al-Qashash: 10)
    Yang dimaksud dengan iman di dalam ayat ini adalah bertambah ketentramannya.
  8. Di antara nikmat Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang paling besar terhadap seorang hamba adalah bersemayamnya kamantapan di dalam dirinya, saat menghadapi hal-hal yang merisaukan dan menakutkan, sebab keimanan dan pahala yang bertambah memungkinkannya untuk mengung-kapkan perkataan yang benar dan tindakan yang tepat, sehingga pandangan dan pikirannya semakin mantap.
  9. Meskipun seorang hamba sudah mengetahui bahwa Qadha’ dan Taqdir Alloh Subhanahu wa Ta’ala adalah haq dan janji-Nya pasti akan terjadi, namun dia tidak boleh mengecilkan arti sebuah usaha yang dapat berguna baginya dan bisa menjadi sebab keberhasilannya di dalam mencapai usaha tersebut. Usaha yang dilakukan ibu Nabi Musa adalah mengutus saudara perempuannya, agar mencari dimana keberadaan bayi Nabi Musa.
  10. Kisah Nabi Musa ‘Alaihis Salam mengisyaratkan dibolehkannya wanita keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Demikian pula, dibolehkan baginya berbicara dengan kaum lelaki bilamana tidak terdapat kendala dan bahaya. Hal ini pernah dilakukan oleh saudara perempuan Nabi Musa dan kedua anak perempuan Nabi Syu’aib ‘Alaihis Salam.
  11. Syari’at umat terdahulu juga berlaku terhadap ummat ini, manakala di dalam syari’at kita tidak ada yang menghapus hukumnya. Indikasinya, tindakan ibunda Musa mengambil upah menyusui anaknya sendiri dari keluarga Fir’aun. Tindakan ini dibolehkan juga dalam syari’at kita karena tidak ada dalil yang menghapus hukumnya.
  12. Bahwa membunuh seorang kafir yang sudah memiliki ikatan dalam suatu perjanjian atau adat, adalah tidak boleh. Ini dapat dipahami dari penyesalan yang ditampakkan oleh Nabi Musa saat secara tidak disadari-nya telah membunuh seorang Qibthiy. Beliau memohon ampun dan bertaubat kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala atas perbuatannya tersebut.
  13. Manakala khawatir diri akan binasa dengan cara sewenang-wenang (tanpa haq) bila menetap di suatu tempat, maka hendaknya tidak nekad tinggal di sana dan menyerah dengan kondisi tersebut.
  14. Bila harus melakukan suatu pilihan terpahit antara dua hal yang sama-sama dapat menimbulkan kerusakan, maka wajib untuk melakukan hal yang lebih ringan dan aman di antara keduanya sehingga dengan begitu, dapat mencegah timbulnya hal yang paling fatal dan berbahaya dari salah satu yang lainnya. Di dalam hal ini, Nabi Musa ‘Alaihis Salam memilih melarikan diri menuju ke sebagian negeri yang amat jauh dan tidak pernah dilalui sebelumnya. Tentu, pilihan ini lebih menjanjikan dan selamat, meskipun pahit ketimbang tetap tinggal di Mesir.
  15. Dalam kisah Nabi Musa ‘Alaihis Salam terdapat suatu isyarat yang manis, terkait dengan seorang penuntut ilmu syar’i atau katakanlah seorang Mujtahid. Yakni, bahwa bila tidak dapat menentukan mana di antara dua pendapat yang lebih kuat padahal sudah berusaha semaksimal mungkin dan dengan niat yang ikhlas lillahi ta’ala, maka hendaknya meminta petunjuk kepada Rabb agar dibimbing dalam menentukan antara dua pendapat tersebut. Kondisi inilah yang dihadapi oleh Musa ‘Alaihis Salam tatkala sampai di kota Madyan dimana dia tidak dapat menentukan jalur mana yang harus dilaluinya. Beliau berdo’a melalui firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Mudah-mudahan Rabbku memimpinku ke jalan yang benar”. (QS: Al-Qashash: 22)

Demikian diantara pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Nabi Musa ‘Alaihis Salam di dalam surat al-Qashash khususnya, dan di dalam al-Qur’an umumnya.

(Sumber Rujukan: Qashash Al-Anbiya; fushul fî dzikri ma qashsha-llahu ‘alaina fi kitabihi min Akhbar al-Anbiya’ maa Aqwamihim” , karya Syaikh ‘Abdurrahmân bin Nashir as-Sa’diy, dengan sedikit perubahan dan tambahan)


Dicopy dari http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/06/27/pelajaran-dari-siroh-nabi-musa-alaihis-salam-2/

Kisah Nabi Musa as

Musa ‘Alaihis Salam merupakan Nabi Bani Israil teragung. Syari’at dan kitabnya, Taurat, merupakan rujukan seluruh nabi-nabi dari kalangan Bani Israil dan ulama mereka. Pengikut beliau, juga termasuk yang terbanyak setelah ummat Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Sallam. Beliau lahir saat Fir’aun melakukan penindasan yang sadis terhadap Bani Israil. Bayi laki-laki mereka yang baru lahir dibunuh dan kaum wanita ditindas dengan menjadikannya sebagai pengabdi kaum laki-laki dan sasaran penghinaan.

Ketika lahir, ibunda beliau merasa was-was, khawatir anaknya jatuh ke tangan Fir’aun, sebab hal itu bukan mustahil terjadi, mengingat penguasa yang diktator ini banyak mengirim mata-matanya ke seluruh penjuru negeri, khususnya untuk menyelidiki aktivitas kaum wanita Bani Israil yang hamil dan jenis kelamin bayi-bayi mereka yang lahir. Dan apabila yang ditemukan adalah bayi laki-laki, maka dibunuh.

Secara kebetulan, rumah keluarga beliau ditakdirkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala terletak di dataran yang menjorok ke Sungai Nil. Alloh Subhanahu wa Ta’ala memberikan ilham kepada ibundanya, agar meletakkan sang anak ke dalam peti, lalu dihanyutkan ke laut, sembari mengikatnya dengan tali agar tidak dibawa oleh arus air yang deras. Tetapi, sebagai kasih sayang Allah terhadap ibundanya, Alloh Subhanahu wa Ta’ala mewahyukan kepadanya, yang artinya “Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa ; “Susuilah dia dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan jangan (pula) bersedih hati, karena sesungguh-nya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul”. (QS: Al-Qashash: 7)

Pada suatu hari, tatkala sang ibu menghayutkan peti yang berisi sang bayi tersayang ke laut, tiba-tiba tali pengikatnya lepas, sehingga terbawa oleh arus. Rupanya, Alloh Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan peti tersebut jatuh ke tangan keluarga Fir’aun, kemudian diserahkan kepada isteri Fir’aun, Asiah.

Saat melihat rupa bayi tersebut, dia sangat senang sekali. Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah menumbuhkan rasa cinta di hati orang-orang terhadapnya, sehingga berita tentangnya pun tersiar ke seluruh pelosok negeri. Juga, tak ayal berita itu pun sampai ke telinga Fir’aun lalu dia mengirimkan bala tentara untuk menyelidiki dan membunuhnya. Namun, sang istri yang baik hati, memintanya agar tidak membunuh sang anak, sebab dia begitu menyenangkan dan siapa tahu kelak bisa berguna dan benar-benar menjadi anak mereka berdua. Karena bujukan sang istri, sang bayi itu pun selamat dari pembunuhan.

Saat yang sama istri Fir’aun sendiri cepat tanggap dalam memberikan layanan terhadap sang bayi. Dia mengundang para penyusu bayi dari pelosok negeri dan meminta mereka mencoba untuk menyusui sang anak, tetapi tak satu pun dari mereka yang bisa melakukannya. Karena bingung, mereka membawanya ke luar untuk berjalan-jalan dan berharap Alloh Subhanahu wa Ta’ala mempertemukannya dengan seseorang yang tepat. Dan akhirnya, melalui saudara perempuan Nabi Musa ‘Alaihis Salam sendiri ia menemukan penyusu yang (juga) tak lain adalah ibu kandung sang bayi.

Terkait dengan kisah Nabi Musa ‘Alaihis Salam, di sini akan dipaparkan lima belas pelajaran penting yang dapat dipetik dari sekian banyak pelajaran penting lainnya. Diantara pelajaran-pelajaran tersebut adalah:

  1. Kasih sayang Alloh Subhanahu wa Ta’ala terhadap ibu nabi Musa ‘Alaihis Salam. Di antara tanda-tanda kasih sayang tersebut: Pertama, Alloh Subhanahu wa Ta’ala memberikan ilham kepada ibunda Nabi Musa, sehingga dengan cara itu Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan anak kesayang-annya yang dibawa arus Sungai Nil. Kedua, Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan berita gembira bahwa Dia akan mengem-balikan sang anak ke pangkuan ibundanya lagi. Ketiga, Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan air susu wanita-wanita penyusu lainnya masuk ke mulut anaknya yakni sang bayi, padahal dia sangat membutuhkan air susu tersebut.
  2. Bahwa tanda-tanda yang diberikan oleh Allah dan pelajaran yang dapat diambil dari umat-umat terdahulu hanya bisa diraih oleh orang-orang yang beriman, sebagaimana Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir’aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman”. (QS: Al-Qashash: 3)
  3. Bahwa apabila Alloh Subhanahu wa Ta’ala menghendaki sesuatu, Alloh Subhanahu wa Ta’ala akan menyediakan sebab-sebabnya dan akan mendatang-kannya secara bertahap, bukan sekaligus.
  4. Umat yang lemah betapa pun kondisi lemahnya, tidak semestinya diliputi oleh kemalasan di dalam merebut kembali hak-haknya, apalagi sampai berputus asa untuk meraih hal yang lebih tinggi, khususnya bila kondisi mereka terzhalimi.
  5. Bahwa selama umat ini terhina dan tertindas, namun tidak bergerak menuntutnya, maka tidak mungkin dapat menjalankan urusan agamanya secara bebas. Demikian pula dengan urusan duniawinya.
  6. Bahwa ketakutan yang bersifat alami terhadap makhluk, tidak menafi-kan keimanan, apalagi menghilangkan-nya. Hal inilah yang terjadi terhadap Ibunda Musa dan Musa sendiri.
  7. Bahwa iman bisa bertambah dan berkurang berdasarkan firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah)” (QS: Al-Qashash: 10)
    Yang dimaksud dengan iman di dalam ayat ini adalah bertambah ketentramannya.
  8. Di antara nikmat Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang paling besar terhadap seorang hamba adalah bersemayamnya kamantapan di dalam dirinya, saat menghadapi hal-hal yang merisaukan dan menakutkan, sebab keimanan dan pahala yang bertambah memungkinkannya untuk mengung-kapkan perkataan yang benar dan tindakan yang tepat, sehingga pandangan dan pikirannya semakin mantap.
  9. Meskipun seorang hamba sudah mengetahui bahwa Qadha’ dan Taqdir Alloh Subhanahu wa Ta’ala adalah haq dan janji-Nya pasti akan terjadi, namun dia tidak boleh mengecilkan arti sebuah usaha yang dapat berguna baginya dan bisa menjadi sebab keberhasilannya di dalam mencapai usaha tersebut. Usaha yang dilakukan ibu Nabi Musa adalah mengutus saudara perempuannya, agar mencari dimana keberadaan bayi Nabi Musa.
  10. Kisah Nabi Musa ‘Alaihis Salam mengisyaratkan dibolehkannya wanita keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Demikian pula, dibolehkan baginya berbicara dengan kaum lelaki bilamana tidak terdapat kendala dan bahaya. Hal ini pernah dilakukan oleh saudara perempuan Nabi Musa dan kedua anak perempuan Nabi Syu’aib ‘Alaihis Salam.
  11. Syari’at umat terdahulu juga berlaku terhadap ummat ini, manakala di dalam syari’at kita tidak ada yang menghapus hukumnya. Indikasinya, tindakan ibunda Musa mengambil upah menyusui anaknya sendiri dari keluarga Fir’aun. Tindakan ini dibolehkan juga dalam syari’at kita karena tidak ada dalil yang menghapus hukumnya.
  12. Bahwa membunuh seorang kafir yang sudah memiliki ikatan dalam suatu perjanjian atau adat, adalah tidak boleh. Ini dapat dipahami dari penyesalan yang ditampakkan oleh Nabi Musa saat secara tidak disadari-nya telah membunuh seorang Qibthiy. Beliau memohon ampun dan bertaubat kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala atas perbuatannya tersebut.
  13. Manakala khawatir diri akan binasa dengan cara sewenang-wenang (tanpa haq) bila menetap di suatu tempat, maka hendaknya tidak nekad tinggal di sana dan menyerah dengan kondisi tersebut.
  14. Bila harus melakukan suatu pilihan terpahit antara dua hal yang sama-sama dapat menimbulkan kerusakan, maka wajib untuk melakukan hal yang lebih ringan dan aman di antara keduanya sehingga dengan begitu, dapat mencegah timbulnya hal yang paling fatal dan berbahaya dari salah satu yang lainnya. Di dalam hal ini, Nabi Musa ‘Alaihis Salam memilih melarikan diri menuju ke sebagian negeri yang amat jauh dan tidak pernah dilalui sebelumnya. Tentu, pilihan ini lebih menjanjikan dan selamat, meskipun pahit ketimbang tetap tinggal di Mesir.
  15. Dalam kisah Nabi Musa ‘Alaihis Salam terdapat suatu isyarat yang manis, terkait dengan seorang penuntut ilmu syar’i atau katakanlah seorang Mujtahid. Yakni, bahwa bila tidak dapat menentukan mana di antara dua pendapat yang lebih kuat padahal sudah berusaha semaksimal mungkin dan dengan niat yang ikhlas lillahi ta’ala, maka hendaknya meminta petunjuk kepada Rabb agar dibimbing dalam menentukan antara dua pendapat tersebut. Kondisi inilah yang dihadapi oleh Musa ‘Alaihis Salam tatkala sampai di kota Madyan dimana dia tidak dapat menentukan jalur mana yang harus dilaluinya. Beliau berdo’a melalui firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Mudah-mudahan Rabbku memimpinku ke jalan yang benar”. (QS: Al-Qashash: 22)

Demikian diantara pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Nabi Musa ‘Alaihis Salam di dalam surat al-Qashash khususnya, dan di dalam al-Qur’an umumnya.

(Sumber Rujukan: Qashash Al-Anbiya; fushul fî dzikri ma qashsha-llahu ‘alaina fi kitabihi min Akhbar al-Anbiya’ maa Aqwamihim” , karya Syaikh ‘Abdurrahmân bin Nashir as-Sa’diy, dengan sedikit perubahan dan tambahan)


Dicopy dari http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/06/27/pelajaran-dari-siroh-nabi-musa-alaihis-salam-2/

Senin, 03 November 2008

Perempuan yang Asing dengan Lelakinya

"Mungkinkah pernikahan ini sudah tak bisa dipertahankan ya Mbak..??.." perempuan itu bertanya sembari menyeka airmata yang membasahi wajah.
Saya diam, tak mau berkomentar sebelum seluruh cerita meluncur dari bibirnya sendiri. Melihat saya diam dia mulai bercerita.
" Sekarang saya makin asing dengan suami saya...hubungan kami sudah hambar. Tak ada lagi kehangatan, kemesraan atau pun keromantisan.." Dia tergugu lagi. Saya pegang tangannya. Jangan-jangan ada orang ketiga di rumah tangganya batin saya. Melihat tatapan saya seolah dia bisa menebak pikiran saya, perempuan itu menggeleng.
"Tak ada orang ketiga ..setidaknya itu yang saya tahu. Mungkin suami saya kecewa atau bosan dengan saya atau malah dia menyesal menikahi saya.."
" Dia memang tak pernah mengungkapkan secara lisan tapi sikapnya Mbak..sikapnya sangat menyakitkan. Seharian dia kerja. Kalau sudah di rumah dia akan sibuk bermain dengan anak-anak. Ketika anak - anak sudah tidur dia akan asyik berselancar di internet atau nonton film. Sering dia pulang terlambat dengan berbagai alasan yang mungkin masuk akal. Rapat organisasi, ketemu teman, lembur....Seolah dia tenggelam dengan dunianya dan tak ada sedikit pun waktu untuk saya bahkan hanya sekedar mengobrol. Dulu Mbak setiap pulang dari kantor dia akan bercerita pada saya tentang berbagai hal. Teman-temannya di kantor, pekerjaan, pasti selalu ada topik seru. Sekarang kalau saya tidak mulai bicara maka dia akan diam saja. Paling bicara seputar anak dan kewajiban finansial. Saat saya bilang padanya ' ngobrol yuk ' dia kan menjawab ' kalau mau ngobrol bunda bicara saja duluan '. Jawaban itu melukai saya Mbak. Seolah dia tidak butuh ngobrol dengan saya..." Banjir air mata perempuan itu makin deras . Saya ulurkan tissue dan dengan cepat diambilnya tissue itu untuk menyeka air matanya.
" Sekarang tak pernah ada lagi pelukan hangat dan ciuman mesra setiap dia akan ke kantor. Ya..hubungan biologis kami memang masih berjalan walau dengan intensitas kecil. Dia hanya mendatangi saya ketika dia butuh penyaluran biologis. Setidaknya untuk satu hal ini saya bersyukur karena dia tidak mencari penyaluran di tempat lain. Mbak..apa yang harus saya lakukan..."
Baru saja mulut saya akan membuka untuk bicara dia sudah menyahut.
"Sudahlah Mbak..saya tahu Mbak mau bicara apa. Saya harus instropeksi kan...karena porsi terbesar penyebab nya pasti saya..Iya Mbak saya sadar kok. Saya ini orangnya terlalu possesif, egois, menang sendiri. Tak ada yang bisa dibanggakan dari saya. Kerja tidak tapi urusan rumah tangga keteteran....."
Saya hanya terdiam. Perempuan itu tidak menginginkan saran saya. Dia hanya butuh didengar.

Senin, 27 Oktober 2008

Yang Tegar di Jalan Dakwah

" Siapa yang bisa datang rapat.."
" Bu Sumini saja.."
"Siapa yang bisa memandikan Jenazah..kasihan keluarga yang meninggal gak punya uang.."
"Ohhh Bu Sumini.."
" Kita butuh masak nih untuk korban banjir..siapa saja yang bisa ya.."
"Ke Bu Sumini saja.."

Sumini adalah sosok yang tegar dan kuat bertahan di jalan dakwah-jalan kebaikan. Padahal tubuhnya ringkih,sering sakit-sakitan dan terbelit masalah ekonomi yang tak kunjung reda. Tapi dia selalu bertahan. Ketika tak ada sepeser uang di kantong , kontribusinya di dakwah tak pernah surut. Mengisi majlis taklim, siap sedia untuk memandikan jenazah secara gratis, mobilisasi massa.

Tangannya tak pernah berhenti mengulur sampai-sampai orang mengiranya sebaga orang kaya. Ya..dia memang kaya. Kaya dengan kebajikan dan keikhlasan. Tak pernah mengeluh. Sebenarnya dia punya banyak keahlian: memasak, menjahit, berdagang tapi keterbatasan modal kadang menjadi halangan.

Anak-anaknya shalih dan shalihan dengan kecerdasan di atas rata-rata. Ada yang berminat jadi orang tua asuh ?? Atau ada yang berminat pesan catering ke beliau ?? Ayam bakarnya yummy lho..Atau ada yang ingin pasang wallpaper atau pesan karpet.suaminya adalah ahlinya..

Minggu, 12 Oktober 2008

The Kite Runner

Akhirnya selesai juga kubaca The Kite Runner setelah hampir setengah tahun buku itu hanya berjejalan di antara puluhan buku lainnya.Padahal aku sudah ngebet banget pengen segera melalap sajiannya Khaled Hosseini. Tapi kesibukan ngurus sekolah baru Asma dan juga melahirkan Azzam membuat buku itu baru sempat kubaca sekarang.

The Kite Runner adalah buku pertama Khaled Hosseini dan sekaligus buku ini menjadi best sellernya. Kisahnya sungguh menyentuh dan mengobrak abrik emosiku saat pembaca. Aku sempat meneteskan air mata saat membaca bagian dimana Sohrab didandani seperti perempuan dan disuruh menari dihadapan Assef yang mengaku sebagai mullah Taliban dan juga dibagian yang menceritakan kalau kepala panti asuhan menjuali anak-anak asuhannya untuk membiayai panti. Kekejaman itu diceritakan begitu halusnya oleh Khaled dengan plot yang memikat. Selain The Kite Runner buku keduanya juga sangat menarik yaitu A Thousand Spleendid Suns.

Kedua buku tersebut bersetting perang Afganistan. Yaahh..perang memang selalu memakan korban dan korban yang paling tak berdaya adalah anak-anak..

Tak sabar rasanya menunggu buku berikutnya dari Khaled Hoseini.

Senin, 15 September 2008

Kalau Abi Menikah Lagi

"Bi, kalau ummi meninggal duluan. Abi boleh menikah lagi..." malam itu aku memulai obrolan dengan topik yang paling tidak disukai suamiku dan topik itu justru topik favoritku. Suamiku pun hanya menatapku dengan sebal. Kontan aku ketawa melihat ekspresinya dan meneruskan ucapanku yang menggantung.
"Tapi ada syaratnya lho...Cari istri yang shalihah trus anak-anak gak boleh ikut abi..." Kerutan di dahi suamiku tambah banyak.
"Asma titipin ke Budhe Utik dan Azzam titipin ke Budhe Euis..."
"Emang kenapa ?" tanya suamiku.
"Budhe Utik anaknya kan cowok semua jadi klop kalau Asma di sana. Budhe Euis anaknya cewek semua pasti seneng kalau Azzam di sana.."
" Bukan itu maksud abi, kenapa anak-anak harus dititipin ke orang. Dan gak boleh tinggal bareng abi.."
Aku tertawa lagi yang makin membuat suamiku manyun.
" Biar gak ikut ibu tiri..siapa tahu ibu tirinya galak. Trus abi gak bisa ngebela mereka.."
" Nanti abi cari istri yang bisa sayang sama anak-anak deh..." jawab suamiku datar.
" Siapa bisa menjamin ???" tanyaku.
" Nah, sekarang kalau abi yang mati duluan, gimana..??" serang suamiku.
" Ummi harus bekerja keras dong.." jawabku.
" Kerja keras cari pengganti abi ??" tanya suamiku.
Kucubit suamiku keras - keras, " Enak aja...kerja keras buat biaya hidup dan membesarkan anak-anak kita. Karena ummi gak pengen nikah lagi.."
" Gak percaya ..." ledek suamiku.
Akhirnya diskusi itu pun terpotong oleh tangisan Azzam. Ternyata Azzam pipis. Melihat wajah bayi Azzam aku jadi sedih membayangkan seandaninya Azzam ikut ibu tiri. Memang tidak semua ibu tiri jahat tapi cap ibu tiri itu jahat terlanjur melekat di benakku. Kebetulan di lingkungan dulu aku melihat beberapa fenomena ibu tiri yang jahat. Teman SDku dulu sampai biru-biru badanya karena dicubitin ibu tirinya. Trus ada saudara yang memperlakukan anak tirinya dengan anaknya sangat berbeda.
" Udah Mi, jangan bengong melulu...Kita berdoa aja ke Allah agar diberi kesempatan mendidk anak-anak kita hingga mereka besa..dan jadi anak shalih-shalihah.."

Rabu, 27 Agustus 2008

Mi, Asma nangis di sekolah..

Hari ini ada pawai menyambut Bulan Ramadhan di sekolah Asma. Kalau ada event-event tertentu biasanya orang tua murid ikut mendampingi, termasuk pawai kali ini. Aku agak bingung juga. Pasalnya, abinya Asma banyak kerjaan di akntor jadi gak bisa bolos walau hanya sejam sedangkan neneknya lagi jagain sepupu Asma di rumah sakit. Akhirnya aku yang ketiban tugas padahal sejujurnya aku belum berani ngajak Azzam yang baru 1 bulan keluar rumah. Maklum aku tipe ibu yang rada paranoid. Khawatir Azzam belum kuat.

Tapi akhirnya aku tetap harus nemenin Asma soalnya kasihan Asma kalau tak ada yang mendampingi. Di sekolahnya aku bertemu dengan Bu Novi, ibu temannya Asma, dia berkoemntar," Wah, akhirnya umminya Asma datang juga...pasti Asma senang!!"
Lalu bu Novi bercerita kalau Asma pernah berdiri sendiri di belakang sekolah sambil menangis. menangisnya tidak keras hanya meneteskan air mata. Peristiwa itu terjadi saat lomba agustusan di sekolah. Memang saat itu baik aku maupun suami tak bisa mendampingi sedang teman-teman Asma sebagian besar datang bersama orang tuanya. Cerita tentang sensitifitas Asma juga datang dari guru-gurunya.

Memang Asma beberapa kali bilang " Mi, Asma menangis di sekolahan tapi gak keras kok.." Ketika kutanya alasannya dia bilang kelamaan nunggu pak Usman, ojeg jemputannya taau ada teman yang nakal. Asma tak pernah bilang pengen ditungguin ummi atau abinya. Asma yang sekecil itu sudah begitu dewasa dan mengerti keterbatasan otang tuanya. Dia sedemikian rupa menyembunyikan perasaannya. Tiba-tiba terasa ada kabut di hati mendengar cerita tentnag Asma. Ternyata ada banyak hal yang luput dari perhatian kami ataukah kami yang terlalu mengabaikan perasaannya. Maafkan kami Nak...Insya Allah kami akan berusaha menajdi orang tuamu yang baik. Asma, kami mencintaimu dengan segala ketulusan dan kasih yang kami miliki.

Selasa, 12 Agustus 2008

Azzam Abdurrahman

Nak, memandangi wajah imutmu yang polos serasa melenyapkan seluruh penat dan lelah yang menggelayuti sekujur tubuhku. Malam-malamku kini menjelma menjadi siang karena nyaris dalam setiap aku harus berjaga. Berjaga untuk mengganti popokmu yang basah oleh pipis dan pup, juga untuk memberimu asi. Pernah ada yang menyarankan untuk memakaikan pampers kalau malam. Tapi aku urung untuk mengiyakan. Pasalnya selain karena kulitmu yang sensitif juga untuk toilet training. Biar tidak kebiasaan pipis tapi tetap tidur alias ngompol. Akibatnya aku jadi sering ketiduran kalau siang. Dan ini memancing protes kakakmu kalau minta ditemani main tapi umminya malah tertidur.

Muhammad Azzam Abdurrahman….kami memilihkan nama ini untukmu. Banyak yang meledek kalau Azzam itu terinspirasi dari novel ‘Ketika Cinta bertasbih’. Padahal dari dulu sebelum novel itu terbit nama’Azzam’ sudah disimpan ummi kalau punya anak laki-laki. Mungkin dirimu suatu saat akan bertanya ke ummi atau abi mengapa diberi nama Azzam. Nak, Azzam itu artinya tekad,kemauan,semangat. Dan memang dirimu lahir di bulan yang penuh dengan tantangan bagi keluarga kita. Bulan Juli banyak deadline yang harus diselesaikan. Orang tuamu harus melunasi pembayaran terakhir rumah mungil kita, abimu harus menyelesaikan tesisnya, Mbak Asma masuk sekolah. Dan di usia tua kehamilanmu , ummi selalu bangun jam 1 dinihari untuk membantu abi menyelesaikan tesisnya. Terkadang sampai kaki kram karena kelamaan duduk di depan komputer. Bahkan di detik-detik menjelang kelahiranmu, abimu masih disibukan mengejar tanda tangan dosen. Ummi sendirian di rumah sakit ketika perut mules-mules hebat. Alhamdulillah ada Uwak Winni dan Budhe Utik yang datang menemani.

Dan tgl 19 Juli 2008 jam 17.55 kau terlahir dengan normal diiringi suara adzan maghrib. Subhanallah …ummi sempat panik karena kamu menghisap air ketuban. Alhamdulillah walau kita sempat lama di rumah sakit dan ada di tempat berbeda sebab kau harus dirawat di ruang terpisah tapi ummi bisa memberikan asi eksklusif. Pemberian asi eksklusif yang penuh perjuangan. Hampir setiap 2 jam sekali ummi harus ke lantai 2 untuk menyusui bahkan di tengah malam sekalipun saat suasana rumah sakit lengang. Ummi sempat merinding sih…tapi ummi ingat ada Allah yang melindungi. Awalnya ummi merasa nelangsa karena tidak bisa satu ruangan denganmu. Terkadang sampai menangis melihatmu tidur sendirian di boks. Tetapi begitu ummi lebih membuka mata dan melihat bayi-bayi di ruangan lain, ummi menjadi lebih bersyukur. Sebagian bayi itu harus berjuang lebih berat darimu Nak. Ummi sempat berbincang dengan beberapa orang tua mereka. Di banding ummi, ujian mereka lebih berat. Ada seorang ibu yang berjuang sendirian menunggui anaknya yang hidrocepalus. Rumahnya di daerah Brebes Jawa Tengah. Rumah sakit di sana sudah angkat tangan. Akhirnya sang bayi harus dioperasi di Jakarta. Karena sang suami harus bekerja maka sang ibu sendirian di Jakarta. Dia harus bolak balik dari rumah saudaranya di Cikarang ke Slipi. Jarak yang lumayan jauh ditempuh. Tapi ibu itu tetap sabar dan tegar. Malu rasanya umi melihat kesabaran ibu-ibu seperti mereka. Ada juga bayi yang harus dirawat 3 bulan di rumah sakit karena kelainan jantung. Tagihan pembayarannya mencapai 70 juta, 10 kali lipat biaya yang harus kita bayar. Banyak hikmah yang bisa ummi ambil. Makanya ketika ummi harus pulang sendirian dari rumah sakit ummi tidak merasa sedih. Ummi menggendongmu sambil mencari taksi di pinggir jalan. Bukannya abi tak peduli Nak tapi pekerjaan abimu tak bisa ditinggal dan kalau harus menunggu abimu mungkin malam kita baru pulang. Padahal ummi sudah tak sabar ingin membawamu pulang ke rumah nenek yang tentunya lebih nyaman di banding rumah sakit.

Nak, sebentar lagi usiamu genap 1 bulan. Banyak asa yang kami harap darimu. Tapi yang pasti kami senantiasa memohon pada Allah SWT yang telah menitipkanmu pada kami agar kami sanggup membesarkanmu menjadi anak shalih..dan engkau tumbuh menajdi anak sehat baik jasmani dan ruhani. amiin. Kami, orang tuamu, ingin selalu membersamaimu dan Mbak Asma dengan segenap cinta dan kasih yang kami miliki...

Senin, 14 Juli 2008

Asma Sekolah

Minggu ini adalah minggu pertama Asma masuk sekolah. Sejak hari ahad Asma sudah tak sabar ingin cepat-cepat pergi ke sekolah barunya. Berkali-kali dia memastikan bahwa seragamnya sudah disetrika, tasnya sudah siap dan sepatunya sudah ada.
" Mi, baju sekolah Asma sudah kan ??" Bolak-balik Asma membuka lemari pakaiannya. Saya dan neneknya sampai geli melihat tingkahnya.

Senin pagi Asma sudah bangun pagi. Rutinitas baru mulai saya perkenalkan. Biasanya pagi-pagi Asma bisa bersantai sebentar lihat kartun lalu ikut menyiram tanaman. Tapi mulai senin ini begitu bangun Asma minum habbatussauda untuk menjaga daya tahan tubuh. Nonton kartun sebentar curious george sambil minum susu dan sarapan. Jam 7 mandi.

Berangkat ke sekolah diantar ummi n abi. Seminggu petama orang tua boleh nungguin sampai jam pulang sekolah. Oh ya nama sekolah Asma TKIT Nurul Ilmi. Awalnya kami khawatir Asma akan menangis atau takut tapi alhamdulillah Asma konsisten dengan janjinya untuk belajar mandiri. Sebelumnya saya pernah mengikutkan di PAUD ( Pendidkan Anak usia Dini ) yang ada di kantor RW di rumah. Tapi Asma harus ditungguin umminya di dalam kelas karena ibu-ibu yang lain juga nungguin anaknya di kelas. Akibatnya ruangan kantor RW yang sempit makin terasa panas. Suasan bermain dan belajar pun jadi tidak kondusif akhirnya Asma berhenti di PAUD.

Di Tk ini Asma mau masuk kelas sendiri walaupun kadang Asma maih banyak diamnya... Saya sendiri lebih memilih ngumpet. Sengaja tidak menongolkan wajah di jendela atau masuk kelas. Hanya ketika jam makan saya ke kelas untuk memastikan Asma sudah mengenali tasnya.

Di hari kedua Asma sudah makin 'cair' dan mau ngobrol dengan temannya walau ketika tadi saya tanya siapa nama temannya Asma bilang belum tahu . PR besok pagi adalah mengenalkan Asma Pak usman tokeng ojeg khusus untuk menjemput Asma pulang sekolah.
Met sekolah sayang....

Kamis, 10 Juli 2008

Bertemu teman

Saya mengamati sosok berjilbab biru di depan Masjid ARH UI Salemba. Sepertinya wajah akhwat tersebut sangat familiar. Agak ragu saya melempar senyum, dia juga terlihat bingung memandang saya.

Spontan dengan setengah pede saya berteriak memanggil..," Ika ?!!" Reflek dia menyahut," Hai..Yubai..". kami pun mendekat dan saling berpelukan.

Subhanallah..tak menyangka bisa bertemu dengan sahabat masa SMA di tempat yang jauh dari daerah asal kami, Magelang. Bahagia sekali rasanya. Ika adalah teman seperjuangan dulu di Rohis. Baru satu menit kami ngobrol tiba-tiba dari masjid keluar lagi sesosok muslimah. Begitu melihat saya dia pun berteriak," Mbak Yubaidah.." Masya Allah...Inung teman kuliah. Ika dan Inung ternyata sama-sama kenal karena mereka sama-sama tugas belajar di pasca sarjana UI. Kami tertawa menyadari betapa sempitnya dunia ini.

Begitulah skenario Allah. Allah yang mempertemukan dan Allah jualah yang memisahkan. Tapi sebagai muslim ikatan aqidah menjadi pemersatu antar umat Islam...Di multiply ini pun saya bisa bertemu dengan sahabat-sahabat lama seperti : Titin, hensi, Wenny, Mbak Aan, Ana dll. Selain itu juga menambah sahabat-sahabat baru. Indahnya Ukhwah....