Minggu, 12 Oktober 2008
The Kite Runner
The Kite Runner adalah buku pertama Khaled Hosseini dan sekaligus buku ini menjadi best sellernya. Kisahnya sungguh menyentuh dan mengobrak abrik emosiku saat pembaca. Aku sempat meneteskan air mata saat membaca bagian dimana Sohrab didandani seperti perempuan dan disuruh menari dihadapan Assef yang mengaku sebagai mullah Taliban dan juga dibagian yang menceritakan kalau kepala panti asuhan menjuali anak-anak asuhannya untuk membiayai panti. Kekejaman itu diceritakan begitu halusnya oleh Khaled dengan plot yang memikat. Selain The Kite Runner buku keduanya juga sangat menarik yaitu A Thousand Spleendid Suns.
Kedua buku tersebut bersetting perang Afganistan. Yaahh..perang memang selalu memakan korban dan korban yang paling tak berdaya adalah anak-anak..
Tak sabar rasanya menunggu buku berikutnya dari Khaled Hoseini.
Senin, 15 September 2008
Kalau Abi Menikah Lagi
"Tapi ada syaratnya lho...Cari istri yang shalihah trus anak-anak gak boleh ikut abi..." Kerutan di dahi suamiku tambah banyak.
"Asma titipin ke Budhe Utik dan Azzam titipin ke Budhe Euis..."
"Emang kenapa ?" tanya suamiku.
"Budhe Utik anaknya kan cowok semua jadi klop kalau Asma di sana. Budhe Euis anaknya cewek semua pasti seneng kalau Azzam di sana.."
" Bukan itu maksud abi, kenapa anak-anak harus dititipin ke orang. Dan gak boleh tinggal bareng abi.."
Aku tertawa lagi yang makin membuat suamiku manyun.
" Biar gak ikut ibu tiri..siapa tahu ibu tirinya galak. Trus abi gak bisa ngebela mereka.."
" Nanti abi cari istri yang bisa sayang sama anak-anak deh..." jawab suamiku datar.
" Siapa bisa menjamin ???" tanyaku.
" Nah, sekarang kalau abi yang mati duluan, gimana..??" serang suamiku.
" Ummi harus bekerja keras dong.." jawabku.
" Kerja keras cari pengganti abi ??" tanya suamiku.
Kucubit suamiku keras - keras, " Enak aja...kerja keras buat biaya hidup dan membesarkan anak-anak kita. Karena ummi gak pengen nikah lagi.."
" Gak percaya ..." ledek suamiku.
Akhirnya diskusi itu pun terpotong oleh tangisan Azzam. Ternyata Azzam pipis. Melihat wajah bayi Azzam aku jadi sedih membayangkan seandaninya Azzam ikut ibu tiri. Memang tidak semua ibu tiri jahat tapi cap ibu tiri itu jahat terlanjur melekat di benakku. Kebetulan di lingkungan dulu aku melihat beberapa fenomena ibu tiri yang jahat. Teman SDku dulu sampai biru-biru badanya karena dicubitin ibu tirinya. Trus ada saudara yang memperlakukan anak tirinya dengan anaknya sangat berbeda.
" Udah Mi, jangan bengong melulu...Kita berdoa aja ke Allah agar diberi kesempatan mendidk anak-anak kita hingga mereka besa..dan jadi anak shalih-shalihah.."
Rabu, 27 Agustus 2008
Mi, Asma nangis di sekolah..
Tapi akhirnya aku tetap harus nemenin Asma soalnya kasihan Asma kalau tak ada yang mendampingi. Di sekolahnya aku bertemu dengan Bu Novi, ibu temannya Asma, dia berkoemntar," Wah, akhirnya umminya Asma datang juga...pasti Asma senang!!"
Lalu bu Novi bercerita kalau Asma pernah berdiri sendiri di belakang sekolah sambil menangis. menangisnya tidak keras hanya meneteskan air mata. Peristiwa itu terjadi saat lomba agustusan di sekolah. Memang saat itu baik aku maupun suami tak bisa mendampingi sedang teman-teman Asma sebagian besar datang bersama orang tuanya. Cerita tentang sensitifitas Asma juga datang dari guru-gurunya.
Memang Asma beberapa kali bilang " Mi, Asma menangis di sekolahan tapi gak keras kok.." Ketika kutanya alasannya dia bilang kelamaan nunggu pak Usman, ojeg jemputannya taau ada teman yang nakal. Asma tak pernah bilang pengen ditungguin ummi atau abinya. Asma yang sekecil itu sudah begitu dewasa dan mengerti keterbatasan otang tuanya. Dia sedemikian rupa menyembunyikan perasaannya. Tiba-tiba terasa ada kabut di hati mendengar cerita tentnag Asma. Ternyata ada banyak hal yang luput dari perhatian kami ataukah kami yang terlalu mengabaikan perasaannya. Maafkan kami Nak...Insya Allah kami akan berusaha menajdi orang tuamu yang baik. Asma, kami mencintaimu dengan segala ketulusan dan kasih yang kami miliki.
Selasa, 12 Agustus 2008
Azzam Abdurrahman
Nak, memandangi wajah imutmu yang polos serasa melenyapkan seluruh penat dan lelah yang menggelayuti sekujur tubuhku. Malam-malamku kini menjelma menjadi siang karena nyaris dalam setiap aku harus berjaga. Berjaga untuk mengganti popokmu yang basah oleh pipis dan pup, juga untuk memberimu asi. Pernah ada yang menyarankan untuk memakaikan pampers kalau malam. Tapi aku urung untuk mengiyakan. Pasalnya selain karena kulitmu yang sensitif juga untuk toilet training. Biar tidak kebiasaan pipis tapi tetap tidur alias ngompol. Akibatnya aku jadi sering ketiduran kalau siang. Dan ini memancing protes kakakmu kalau minta ditemani main tapi umminya malah tertidur.
Muhammad Azzam Abdurrahman….kami memilihkan nama ini untukmu. Banyak yang meledek kalau Azzam itu terinspirasi dari novel ‘Ketika Cinta bertasbih’. Padahal dari dulu sebelum novel itu terbit nama’Azzam’ sudah disimpan ummi kalau punya anak laki-laki. Mungkin dirimu suatu saat akan bertanya ke ummi atau abi mengapa diberi nama Azzam. Nak, Azzam itu artinya tekad,kemauan,semangat. Dan memang dirimu lahir di bulan yang penuh dengan tantangan bagi keluarga kita. Bulan Juli banyak deadline yang harus diselesaikan. Orang tuamu harus melunasi pembayaran terakhir rumah mungil kita, abimu harus menyelesaikan tesisnya, Mbak Asma masuk sekolah. Dan di usia tua kehamilanmu , ummi selalu bangun jam 1 dinihari untuk membantu abi menyelesaikan tesisnya. Terkadang sampai kaki kram karena kelamaan duduk di depan komputer. Bahkan di detik-detik menjelang kelahiranmu, abimu masih disibukan mengejar tanda tangan dosen. Ummi sendirian di rumah sakit ketika perut mules-mules hebat. Alhamdulillah ada Uwak Winni dan Budhe Utik yang datang menemani.
Dan tgl 19 Juli 2008 jam 17.55 kau terlahir dengan normal diiringi suara adzan maghrib. Subhanallah …ummi sempat panik karena kamu menghisap air ketuban. Alhamdulillah walau kita sempat lama di rumah sakit dan ada di tempat berbeda sebab kau harus dirawat di ruang terpisah tapi ummi bisa memberikan asi eksklusif. Pemberian asi eksklusif yang penuh perjuangan. Hampir setiap 2 jam sekali ummi harus ke lantai 2 untuk menyusui bahkan di tengah malam sekalipun saat suasana rumah sakit lengang. Ummi sempat merinding sih…tapi ummi ingat ada Allah yang melindungi. Awalnya ummi merasa nelangsa karena tidak bisa satu ruangan denganmu. Terkadang sampai menangis melihatmu tidur sendirian di boks. Tetapi begitu ummi lebih membuka mata dan melihat bayi-bayi di ruangan lain, ummi menjadi lebih bersyukur. Sebagian bayi itu harus berjuang lebih berat darimu Nak. Ummi sempat berbincang dengan beberapa orang tua mereka. Di banding ummi, ujian mereka lebih berat.
Senin, 14 Juli 2008
Asma Sekolah
" Mi, baju sekolah Asma sudah kan ??" Bolak-balik Asma membuka lemari pakaiannya. Saya dan neneknya sampai geli melihat tingkahnya.
Senin pagi Asma sudah bangun pagi. Rutinitas baru mulai saya perkenalkan. Biasanya pagi-pagi Asma bisa bersantai sebentar lihat kartun lalu ikut menyiram tanaman. Tapi mulai senin ini begitu bangun Asma minum habbatussauda untuk menjaga daya tahan tubuh. Nonton kartun sebentar curious george sambil minum susu dan sarapan. Jam 7 mandi.
Berangkat ke sekolah diantar ummi n abi. Seminggu petama orang tua boleh nungguin sampai jam pulang sekolah. Oh ya nama sekolah Asma TKIT Nurul Ilmi. Awalnya kami khawatir Asma akan menangis atau takut tapi alhamdulillah Asma konsisten dengan janjinya untuk belajar mandiri. Sebelumnya saya pernah mengikutkan di PAUD ( Pendidkan Anak usia Dini ) yang ada di kantor RW di rumah. Tapi Asma harus ditungguin umminya di dalam kelas karena ibu-ibu yang lain juga nungguin anaknya di kelas. Akibatnya ruangan kantor RW yang sempit makin terasa panas. Suasan bermain dan belajar pun jadi tidak kondusif akhirnya Asma berhenti di PAUD.
Di Tk ini Asma mau masuk kelas sendiri walaupun kadang Asma maih banyak diamnya... Saya sendiri lebih memilih ngumpet. Sengaja tidak menongolkan wajah di jendela atau masuk kelas. Hanya ketika jam makan saya ke kelas untuk memastikan Asma sudah mengenali tasnya.
Di hari kedua Asma sudah makin 'cair' dan mau ngobrol dengan temannya walau ketika tadi saya tanya siapa nama temannya Asma bilang belum tahu
Met sekolah sayang....
Kamis, 10 Juli 2008
Bertemu teman
Saya mengamati sosok berjilbab biru di depan Masjid ARH UI Salemba. Sepertinya wajah akhwat tersebut sangat familiar. Agak ragu saya melempar senyum, dia juga terlihat bingung memandang saya.
Spontan dengan setengah pede saya berteriak memanggil..," Ika ?!!" Reflek dia menyahut," Hai..Yubai..". kami pun mendekat dan saling berpelukan.
Subhanallah..tak menyangka bisa bertemu dengan sahabat masa SMA di tempat yang jauh dari daerah asal kami, Magelang. Bahagia sekali rasanya. Ika adalah teman seperjuangan dulu di Rohis. Baru satu menit kami ngobrol tiba-tiba dari masjid keluar lagi sesosok muslimah. Begitu melihat saya dia pun berteriak," Mbak Yubaidah.." Masya Allah...Inung teman kuliah. Ika dan Inung ternyata sama-sama kenal karena mereka sama-sama tugas belajar di pasca sarjana UI. Kami tertawa menyadari betapa sempitnya dunia ini.
Begitulah skenario Allah. Allah yang mempertemukan dan Allah jualah yang memisahkan. Tapi sebagai muslim ikatan aqidah menjadi pemersatu antar umat Islam...Di multiply ini pun saya bisa bertemu dengan sahabat-sahabat lama seperti : Titin, hensi, Wenny, Mbak Aan, Ana dll. Selain itu juga menambah sahabat-sahabat baru. Indahnya Ukhwah....
Rabu, 02 Juli 2008
Lupa yang menjadi Beban
Dari pagi hingga siang aku mengantar ibu mertua ke pasar baru. Walau perut buncit tapi aku enjoy saja sekalian olahraga. Kebetulan liburan sekolah ini ibu mertua dapat titipan belanjaan dari kakak yang di Malang.
Setelah puter-puter pasar baru sekitar 3 jam dan menenteng belanjaan seabreg juga menggandeng Asma dan Askia ( sepupu Asma ) kita langsung naik taksi ke rumah. Di jalan aku baru ingat kalau harus periksa mingguan ke dokter. Akhirnya taksi berbelok arah menuju ke Harapan Kita daripada harus bolak balik ke rumah kan capek dan boros.
Di Harapan Kita nunggu sekitar 1 jam-an . Anak-anak sudah bete karena kecapekan. Alhamdulillah akhirnya dipanggil juga sama susternya. Karena usia kandungan sudah 9 bulan makanya harus periksa perminggu. Alhamdulillah kondisi kandungan baik dna sehat. Begitu selesai kit apulang. Kebetulan di luar ada taksi kosong.
Saking semangatnya pengen cepat pulang aku lupa kalau belum bayar biaya periksa. Astaghfirullah..... aku sadar kalau belum bayar setelah sampai di Tebet. Mau balik lagi ke rumah sakit kok jauh banget mana macet. Tapi kalau tidak segera membayar tersa jadi beban berat.
Aku nyoba telpon ke poli kebidanan dan minta no rek untuk transfer biaya periksa. Tapi alhamdulillah mereka mau mengerti dan menganjurkanku untuk bayar senin depan. Agak lega sih tapi tetap jadi beban karena punya utang. Semoga Allah memberi kesempatan padaku untuk melunasi utang tersebut.