Senin, 10 November 2008
Azzam bisa tengkurep
Aku yang lagi asyik makan segera ke kamar dan melihat Azzam sedang asyik ngenyot pergelangan tangannya.
'Alhamdulillah..." kataku.
Sudah seminggu ini Azzam belajar tengkurap. Awalnya dia tengkurap tapi belum bisa ngatur posisi tangan. Jadi kita yang membantunya. Tapi sejak kamrin dia sudah lihai tengkurep sendiri. Malah sudah muter-muterin badan.
Alhamdulillah..terimakasih ya Allah. Lindungilah anak-anak hamba..jadikan mereka sebagai anak yang shalih dan shalihah
Tentang Fikri
Kutunggu-tunggu tak ada juga balasan dari Mbak Merry. Mungkin dia lagi sibuk berat. Sore hari ba'da maghrib terdengar dering pesan masuk di HP Ericksonku. Oh ya HP Ericson ini kubeli sangat murah dari Nanang ( suami Ririn ), hanya 100 rb. Walau HPnya gedhe banget tapi bandel. Berkali-kali jatuh tidak rusak. Dan lumayan bisa untuk senajta bertahan kalau ada orang jahat. Kubuka HP-ku. 'New Message'. Hmm..dari Merry. Kubaca isinya..."Fikri itu baik,lucu dan gaul" Bik,lucu dan gaul...kurang diskriptif. Kalau aku nanya-nanya lebih detail gak enal kayaknya karena Merry lagi sibuk.
"Mbak, Bendahara Komsat UGM dulu kalau diundang dana usaha KAMDA kok jarang datang ya.." pancingku.
"Oh itu si Fikri." jawab Munif.
"Yang mana sih Mbak orangnya.."
"Lho kamu gak tahu tho.. Wong akhwat-akhwat suka geli kalau ingat pas Fikri jadi pjs KOMSAT..."
Beneran kata Mbak Merry kalau Fikri orangnya lucu.
" Mungkin saking pusingnya mikirin KOMSAT, dia itu pernah rapat kayak orang belum mandi. Rambutnya acak-acakan , tampangnya kumel..." Munif ketawa geli.
Waduh...
"Tapi orangnya amanah, mungkin pas diundang KAMDA dia lagi sibuk jadi gak bisa datang"
Lumayanlah dapat tambahan info lagi. Selain itu aku juga mengorek keterangan dari akhwat lain. Sebenarnya sih banyak ikhwan yang bisa dikorek infonya tapi gak pedelah. Ada Pipit alias Fitrian ( Suaminya BundaSalmawafa ), Begin, Memet...
Kamis, 06 November 2008
BioData
" Daya Prosumen Mandiri, selamat siang.." kataku .
"Assalaamu'alaikum. Bisa bicara dengan Mbak Yubaidah.." sebuah suara yang sangat kukenal terdengar di ujung telpon.
" Wassalamu'alaikum warahmatullah. Saya sendiri. Ini Bu Iftah ya.." jawabku.
"Iya . Bisa tidak nanti sore anti ke rumah. Ada yang ingin saya bicarakan.."
" Insyaa Allah Bu..." jawabku. Setelah telpon ditutup aku jadi bertanya-tanya kira-kira ada apa kok Bu Iftah ingin mengajakku bicara sore ini juga. Padahal besok Jumat aku juga ke rumahnya. Jangan-jangan ada masalah serius denganku...tapi tentang apa. Bingung deh.
" Mbak Ubai, kenal dengan Fikri Abdurachman tidak ??" tanyanya setelah kami duduk di ruang tamunya. Fikri Abdurachman, rasanya aku pernah dengar nama anak itu. Oh ya, aku ingat dia pengurus KAMMI Komisariat UGM.
" Tahu sih iya Mbak tapi kenal secara langsung tidak.." Aku memang pernah beberapa kali ada dalam satu forum dengan Fikri tapi tidak pernah bicara secara pribadi. Wajahnya saja sudah agak lupa kayak apa.
"Ada pa sih Mbak. Urusan dakwah kampus ya ??" tanyaku menebak. Setahuku Fikri sudah lulus dan tidak berdomisili di Jogja lagi.
Bu Iftah hanya tersenyum sambil mengulurkan amplop putih padaku.
"Ini biodata Fikri Abdurachman. Lihat dulu dan istikharah. Kalau ada kemantapan untuk lanjut ta'aruf nanti bilang ke saya..."
Aku terkejut. Biodata???
"Saya kasih waktu 2 minggu ya agar tidak kelamaan..Bismillah aja ya.." Saya mengangguk sambil terbengong-bengong. Jujur saja saya belum siap untuk ta'aruf. Dan Fikri Abdurachman ?? Saya tidak tahu banyak tentangnya..Saya harus jadi detektif nih untuk mengorek keterangan tentang Fikri. Teman-teman tak boleh sampai ada yang tahu. Iya kalau nanti lanjut kalo gak kan tengsin..
Rabu, 05 November 2008
Kisah Nabi Musa as
Ketika lahir, ibunda beliau merasa was-was, khawatir anaknya jatuh ke tangan Fir’aun, sebab hal itu bukan mustahil terjadi, mengingat penguasa yang diktator ini banyak mengirim mata-matanya ke seluruh penjuru negeri, khususnya untuk menyelidiki aktivitas kaum wanita Bani Israil yang hamil dan jenis kelamin bayi-bayi mereka yang lahir. Dan apabila yang ditemukan adalah bayi laki-laki, maka dibunuh.
Secara kebetulan, rumah keluarga beliau ditakdirkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala terletak di dataran yang menjorok ke Sungai Nil. Alloh Subhanahu wa Ta’ala memberikan ilham kepada ibundanya, agar meletakkan sang anak ke dalam peti, lalu dihanyutkan ke laut, sembari mengikatnya dengan tali agar tidak dibawa oleh arus air yang deras. Tetapi, sebagai kasih sayang Allah terhadap ibundanya, Alloh Subhanahu wa Ta’ala mewahyukan kepadanya, yang artinya “Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa ; “Susuilah dia dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan jangan (pula) bersedih hati, karena sesungguh-nya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul”. (QS: Al-Qashash: 7)
Pada suatu hari, tatkala sang ibu menghayutkan peti yang berisi sang bayi tersayang ke laut, tiba-tiba tali pengikatnya lepas, sehingga terbawa oleh arus. Rupanya, Alloh Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan peti tersebut jatuh ke tangan keluarga Fir’aun, kemudian diserahkan kepada isteri Fir’aun, Asiah.
Saat melihat rupa bayi tersebut, dia sangat senang sekali. Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah menumbuhkan rasa cinta di hati orang-orang terhadapnya, sehingga berita tentangnya pun tersiar ke seluruh pelosok negeri. Juga, tak ayal berita itu pun sampai ke telinga Fir’aun lalu dia mengirimkan bala tentara untuk menyelidiki dan membunuhnya. Namun, sang istri yang baik hati, memintanya agar tidak membunuh sang anak, sebab dia begitu menyenangkan dan siapa tahu kelak bisa berguna dan benar-benar menjadi anak mereka berdua. Karena bujukan sang istri, sang bayi itu pun selamat dari pembunuhan.
Saat yang sama istri Fir’aun sendiri cepat tanggap dalam memberikan layanan terhadap sang bayi. Dia mengundang para penyusu bayi dari pelosok negeri dan meminta mereka mencoba untuk menyusui sang anak, tetapi tak satu pun dari mereka yang bisa melakukannya. Karena bingung, mereka membawanya ke luar untuk berjalan-jalan dan berharap Alloh Subhanahu wa Ta’ala mempertemukannya dengan seseorang yang tepat. Dan akhirnya, melalui saudara perempuan Nabi Musa ‘Alaihis Salam sendiri ia menemukan penyusu yang (juga) tak lain adalah ibu kandung sang bayi.
Terkait dengan kisah Nabi Musa ‘Alaihis Salam, di sini akan dipaparkan lima belas pelajaran penting yang dapat dipetik dari sekian banyak pelajaran penting lainnya. Diantara pelajaran-pelajaran tersebut adalah:
- Kasih sayang Alloh Subhanahu wa Ta’ala terhadap ibu nabi Musa ‘Alaihis Salam. Di antara tanda-tanda kasih sayang tersebut: Pertama, Alloh Subhanahu wa Ta’alaSubhanahu wa Ta’ala menyelamatkan anak kesayang-annya yang dibawa arus Sungai Nil. Kedua, Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan berita gembira bahwa Dia akan mengem-balikan sang anak ke pangkuan ibundanya lagi. Ketiga, Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan air susu wanita-wanita penyusu lainnya masuk ke mulut anaknya yakni sang bayi, padahal dia sangat membutuhkan air susu tersebut. memberikan ilham kepada ibunda Nabi Musa, sehingga dengan cara itu Alloh
- Bahwa tanda-tanda yang diberikan oleh Allah dan pelajaran yang dapat diambil dari umat-umat terdahulu hanya bisa diraih oleh orang-orang yang beriman, sebagaimana Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir’aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman”. (QS: Al-Qashash: 3)
- Bahwa apabila Alloh Subhanahu wa Ta’ala menghendaki sesuatu, Alloh Subhanahu wa Ta’ala akan menyediakan sebab-sebabnya dan akan mendatang-kannya secara bertahap, bukan sekaligus.
- Umat yang lemah betapa pun kondisi lemahnya, tidak semestinya diliputi oleh kemalasan di dalam merebut kembali hak-haknya, apalagi sampai berputus asa untuk meraih hal yang lebih tinggi, khususnya bila kondisi mereka terzhalimi.
- Bahwa selama umat ini terhina dan tertindas, namun tidak bergerak menuntutnya, maka tidak mungkin dapat menjalankan urusan agamanya secara bebas. Demikian pula dengan urusan duniawinya.
- Bahwa ketakutan yang bersifat alami terhadap makhluk, tidak menafi-kan keimanan, apalagi menghilangkan-nya. Hal inilah yang terjadi terhadap Ibunda Musa dan Musa sendiri.
- Bahwa iman bisa bertambah dan berkurang berdasarkan firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah)” (QS: Al-Qashash: 10)
Yang dimaksud dengan iman di dalam ayat ini adalah bertambah ketentramannya. - Di antara nikmat Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang paling besar terhadap seorang hamba adalah bersemayamnya kamantapan di dalam dirinya, saat menghadapi hal-hal yang merisaukan dan menakutkan, sebab keimanan dan pahala yang bertambah memungkinkannya untuk mengung-kapkan perkataan yang benar dan tindakan yang tepat, sehingga pandangan dan pikirannya semakin mantap.
- Meskipun seorang hamba sudah mengetahui bahwa Qadha’ dan Taqdir Alloh Subhanahu wa Ta’ala adalah haq dan janji-Nya pasti akan terjadi, namun dia tidak boleh mengecilkan arti sebuah usaha yang dapat berguna baginya dan bisa menjadi sebab keberhasilannya di dalam mencapai usaha tersebut. Usaha yang dilakukan ibu Nabi Musa adalah mengutus saudara perempuannya, agar mencari dimana keberadaan bayi Nabi Musa.
- Kisah Nabi Musa ‘Alaihis Salam mengisyaratkan dibolehkannya wanita keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Demikian pula, dibolehkan baginya berbicara dengan kaum lelaki bilamana tidak terdapat kendala dan bahaya. Hal ini pernah dilakukan oleh saudara perempuan Nabi Musa dan kedua anak perempuan Nabi Syu’aib ‘Alaihis Salam.
- Syari’at umat terdahulu juga berlaku terhadap ummat ini, manakala di dalam syari’at kita tidak ada yang menghapus hukumnya. Indikasinya, tindakan ibunda Musa mengambil upah menyusui anaknya sendiri dari keluarga Fir’aun. Tindakan ini dibolehkan juga dalam syari’at kita karena tidak ada dalil yang menghapus hukumnya.
- Bahwa membunuh seorang kafir yang sudah memiliki ikatan dalam suatu perjanjian atau adat, adalah tidak boleh. Ini dapat dipahami dari penyesalan yang ditampakkan oleh Nabi Musa saat secara tidak disadari-nya telah membunuh seorang Qibthiy. Beliau memohon ampun dan bertaubat kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala atas perbuatannya tersebut.
- Manakala khawatir diri akan binasa dengan cara sewenang-wenang (tanpa haq) bila menetap di suatu tempat, maka hendaknya tidak nekad tinggal di sana dan menyerah dengan kondisi tersebut.
- Bila harus melakukan suatu pilihan terpahit antara dua hal yang sama-sama dapat menimbulkan kerusakan, maka wajib untuk melakukan hal yang lebih ringan dan aman di antara keduanya sehingga dengan begitu, dapat mencegah timbulnya hal yang paling fatal dan berbahaya dari salah satu yang lainnya. Di dalam hal ini, Nabi Musa ‘Alaihis Salam memilih melarikan diri menuju ke sebagian negeri yang amat jauh dan tidak pernah dilalui sebelumnya. Tentu, pilihan ini lebih menjanjikan dan selamat, meskipun pahit ketimbang tetap tinggal di Mesir.
- Dalam kisah Nabi Musa ‘Alaihis Salam terdapat suatu isyarat yang manis, terkait dengan seorang penuntut ilmu syar’i atau katakanlah seorang Mujtahid. Yakni, bahwa bila tidak dapat menentukan mana di antara dua pendapat yang lebih kuat padahal sudah berusaha semaksimal mungkin dan dengan niat yang ikhlas lillahi ta’ala, maka hendaknya meminta petunjuk kepada Rabb agar dibimbing dalam menentukan antara dua pendapat tersebut. Kondisi inilah yang dihadapi oleh Musa ‘Alaihis Salam tatkala sampai di kota Madyan dimana dia tidak dapat menentukan jalur mana yang harus dilaluinya. Beliau berdo’a melalui firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Mudah-mudahan Rabbku memimpinku ke jalan yang benar”. (QS: Al-Qashash: 22)
Demikian diantara pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Nabi Musa ‘Alaihis Salam di dalam surat al-Qashash khususnya, dan di dalam al-Qur’an umumnya.
(Sumber Rujukan: Qashash Al-Anbiya; fushul fî dzikri ma qashsha-llahu ‘alaina fi kitabihi min Akhbar al-Anbiya’ maa Aqwamihim” , karya Syaikh ‘Abdurrahmân bin Nashir as-Sa’diy, dengan sedikit perubahan dan tambahan)
Dicopy dari http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/06/27/pelajaran-dari-siroh-nabi-musa-alaihis-salam-2/
Kisah Nabi Musa as
Ketika lahir, ibunda beliau merasa was-was, khawatir anaknya jatuh ke tangan Fir’aun, sebab hal itu bukan mustahil terjadi, mengingat penguasa yang diktator ini banyak mengirim mata-matanya ke seluruh penjuru negeri, khususnya untuk menyelidiki aktivitas kaum wanita Bani Israil yang hamil dan jenis kelamin bayi-bayi mereka yang lahir. Dan apabila yang ditemukan adalah bayi laki-laki, maka dibunuh.
Secara kebetulan, rumah keluarga beliau ditakdirkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala terletak di dataran yang menjorok ke Sungai Nil. Alloh Subhanahu wa Ta’ala memberikan ilham kepada ibundanya, agar meletakkan sang anak ke dalam peti, lalu dihanyutkan ke laut, sembari mengikatnya dengan tali agar tidak dibawa oleh arus air yang deras. Tetapi, sebagai kasih sayang Allah terhadap ibundanya, Alloh Subhanahu wa Ta’ala mewahyukan kepadanya, yang artinya “Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa ; “Susuilah dia dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan jangan (pula) bersedih hati, karena sesungguh-nya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul”. (QS: Al-Qashash: 7)
Pada suatu hari, tatkala sang ibu menghayutkan peti yang berisi sang bayi tersayang ke laut, tiba-tiba tali pengikatnya lepas, sehingga terbawa oleh arus. Rupanya, Alloh Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan peti tersebut jatuh ke tangan keluarga Fir’aun, kemudian diserahkan kepada isteri Fir’aun, Asiah.
Saat melihat rupa bayi tersebut, dia sangat senang sekali. Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah menumbuhkan rasa cinta di hati orang-orang terhadapnya, sehingga berita tentangnya pun tersiar ke seluruh pelosok negeri. Juga, tak ayal berita itu pun sampai ke telinga Fir’aun lalu dia mengirimkan bala tentara untuk menyelidiki dan membunuhnya. Namun, sang istri yang baik hati, memintanya agar tidak membunuh sang anak, sebab dia begitu menyenangkan dan siapa tahu kelak bisa berguna dan benar-benar menjadi anak mereka berdua. Karena bujukan sang istri, sang bayi itu pun selamat dari pembunuhan.
Saat yang sama istri Fir’aun sendiri cepat tanggap dalam memberikan layanan terhadap sang bayi. Dia mengundang para penyusu bayi dari pelosok negeri dan meminta mereka mencoba untuk menyusui sang anak, tetapi tak satu pun dari mereka yang bisa melakukannya. Karena bingung, mereka membawanya ke luar untuk berjalan-jalan dan berharap Alloh Subhanahu wa Ta’ala mempertemukannya dengan seseorang yang tepat. Dan akhirnya, melalui saudara perempuan Nabi Musa ‘Alaihis Salam sendiri ia menemukan penyusu yang (juga) tak lain adalah ibu kandung sang bayi.
Terkait dengan kisah Nabi Musa ‘Alaihis Salam, di sini akan dipaparkan lima belas pelajaran penting yang dapat dipetik dari sekian banyak pelajaran penting lainnya. Diantara pelajaran-pelajaran tersebut adalah:
- Kasih sayang Alloh Subhanahu wa Ta’ala terhadap ibu nabi Musa ‘Alaihis Salam. Di antara tanda-tanda kasih sayang tersebut: Pertama, Alloh Subhanahu wa Ta’ala memberikan ilham kepada ibunda Nabi Musa, sehingga dengan cara itu Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan anak kesayang-annya yang dibawa arus Sungai Nil. Kedua, Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan berita gembira bahwa Dia akan mengem-balikan sang anak ke pangkuan ibundanya lagi. Ketiga, Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan air susu wanita-wanita penyusu lainnya masuk ke mulut anaknya yakni sang bayi, padahal dia sangat membutuhkan air susu tersebut.
- Bahwa tanda-tanda yang diberikan oleh Allah dan pelajaran yang dapat diambil dari umat-umat terdahulu hanya bisa diraih oleh orang-orang yang beriman, sebagaimana Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir’aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman”. (QS: Al-Qashash: 3)
- Bahwa apabila Alloh Subhanahu wa Ta’ala menghendaki sesuatu, Alloh Subhanahu wa Ta’ala akan menyediakan sebab-sebabnya dan akan mendatang-kannya secara bertahap, bukan sekaligus.
- Umat yang lemah betapa pun kondisi lemahnya, tidak semestinya diliputi oleh kemalasan di dalam merebut kembali hak-haknya, apalagi sampai berputus asa untuk meraih hal yang lebih tinggi, khususnya bila kondisi mereka terzhalimi.
- Bahwa selama umat ini terhina dan tertindas, namun tidak bergerak menuntutnya, maka tidak mungkin dapat menjalankan urusan agamanya secara bebas. Demikian pula dengan urusan duniawinya.
- Bahwa ketakutan yang bersifat alami terhadap makhluk, tidak menafi-kan keimanan, apalagi menghilangkan-nya. Hal inilah yang terjadi terhadap Ibunda Musa dan Musa sendiri.
- Bahwa iman bisa bertambah dan berkurang berdasarkan firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah)” (QS: Al-Qashash: 10)
Yang dimaksud dengan iman di dalam ayat ini adalah bertambah ketentramannya. - Di antara nikmat Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang paling besar terhadap seorang hamba adalah bersemayamnya kamantapan di dalam dirinya, saat menghadapi hal-hal yang merisaukan dan menakutkan, sebab keimanan dan pahala yang bertambah memungkinkannya untuk mengung-kapkan perkataan yang benar dan tindakan yang tepat, sehingga pandangan dan pikirannya semakin mantap.
- Meskipun seorang hamba sudah mengetahui bahwa Qadha’ dan Taqdir Alloh Subhanahu wa Ta’ala adalah haq dan janji-Nya pasti akan terjadi, namun dia tidak boleh mengecilkan arti sebuah usaha yang dapat berguna baginya dan bisa menjadi sebab keberhasilannya di dalam mencapai usaha tersebut. Usaha yang dilakukan ibu Nabi Musa adalah mengutus saudara perempuannya, agar mencari dimana keberadaan bayi Nabi Musa.
- Kisah Nabi Musa ‘Alaihis Salam mengisyaratkan dibolehkannya wanita keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Demikian pula, dibolehkan baginya berbicara dengan kaum lelaki bilamana tidak terdapat kendala dan bahaya. Hal ini pernah dilakukan oleh saudara perempuan Nabi Musa dan kedua anak perempuan Nabi Syu’aib ‘Alaihis Salam.
- Syari’at umat terdahulu juga berlaku terhadap ummat ini, manakala di dalam syari’at kita tidak ada yang menghapus hukumnya. Indikasinya, tindakan ibunda Musa mengambil upah menyusui anaknya sendiri dari keluarga Fir’aun. Tindakan ini dibolehkan juga dalam syari’at kita karena tidak ada dalil yang menghapus hukumnya.
- Bahwa membunuh seorang kafir yang sudah memiliki ikatan dalam suatu perjanjian atau adat, adalah tidak boleh. Ini dapat dipahami dari penyesalan yang ditampakkan oleh Nabi Musa saat secara tidak disadari-nya telah membunuh seorang Qibthiy. Beliau memohon ampun dan bertaubat kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala atas perbuatannya tersebut.
- Manakala khawatir diri akan binasa dengan cara sewenang-wenang (tanpa haq) bila menetap di suatu tempat, maka hendaknya tidak nekad tinggal di sana dan menyerah dengan kondisi tersebut.
- Bila harus melakukan suatu pilihan terpahit antara dua hal yang sama-sama dapat menimbulkan kerusakan, maka wajib untuk melakukan hal yang lebih ringan dan aman di antara keduanya sehingga dengan begitu, dapat mencegah timbulnya hal yang paling fatal dan berbahaya dari salah satu yang lainnya. Di dalam hal ini, Nabi Musa ‘Alaihis Salam memilih melarikan diri menuju ke sebagian negeri yang amat jauh dan tidak pernah dilalui sebelumnya. Tentu, pilihan ini lebih menjanjikan dan selamat, meskipun pahit ketimbang tetap tinggal di Mesir.
- Dalam kisah Nabi Musa ‘Alaihis Salam terdapat suatu isyarat yang manis, terkait dengan seorang penuntut ilmu syar’i atau katakanlah seorang Mujtahid. Yakni, bahwa bila tidak dapat menentukan mana di antara dua pendapat yang lebih kuat padahal sudah berusaha semaksimal mungkin dan dengan niat yang ikhlas lillahi ta’ala, maka hendaknya meminta petunjuk kepada Rabb agar dibimbing dalam menentukan antara dua pendapat tersebut. Kondisi inilah yang dihadapi oleh Musa ‘Alaihis Salam tatkala sampai di kota Madyan dimana dia tidak dapat menentukan jalur mana yang harus dilaluinya. Beliau berdo’a melalui firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Mudah-mudahan Rabbku memimpinku ke jalan yang benar”. (QS: Al-Qashash: 22)
Demikian diantara pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Nabi Musa ‘Alaihis Salam di dalam surat al-Qashash khususnya, dan di dalam al-Qur’an umumnya.
(Sumber Rujukan: Qashash Al-Anbiya; fushul fî dzikri ma qashsha-llahu ‘alaina fi kitabihi min Akhbar al-Anbiya’ maa Aqwamihim” , karya Syaikh ‘Abdurrahmân bin Nashir as-Sa’diy, dengan sedikit perubahan dan tambahan)
Dicopy dari http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/06/27/pelajaran-dari-siroh-nabi-musa-alaihis-salam-2/
Senin, 03 November 2008
Perempuan yang Asing dengan Lelakinya
Saya diam, tak mau berkomentar sebelum seluruh cerita meluncur dari bibirnya sendiri. Melihat saya diam dia mulai bercerita.
" Sekarang saya makin asing dengan suami saya...hubungan kami sudah hambar. Tak ada lagi kehangatan, kemesraan atau pun keromantisan.." Dia tergugu lagi. Saya pegang tangannya. Jangan-jangan ada orang ketiga di rumah tangganya batin saya. Melihat tatapan saya seolah dia bisa menebak pikiran saya, perempuan itu menggeleng.
"Tak ada orang ketiga ..setidaknya itu yang saya tahu. Mungkin suami saya kecewa atau bosan dengan saya atau malah dia menyesal menikahi saya.."
" Dia memang tak pernah mengungkapkan secara lisan tapi sikapnya Mbak..sikapnya sangat menyakitkan. Seharian dia kerja. Kalau sudah di rumah dia akan sibuk bermain dengan anak-anak. Ketika anak - anak sudah tidur dia akan asyik berselancar di internet atau nonton film. Sering dia pulang terlambat dengan berbagai alasan yang mungkin masuk akal. Rapat organisasi, ketemu teman, lembur....Seolah dia tenggelam dengan dunianya dan tak ada sedikit pun waktu untuk saya bahkan hanya sekedar mengobrol. Dulu Mbak setiap pulang dari kantor dia akan bercerita pada saya tentang berbagai hal. Teman-temannya di kantor, pekerjaan, pasti selalu ada topik seru. Sekarang kalau saya tidak mulai bicara maka dia akan diam saja. Paling bicara seputar anak dan kewajiban finansial. Saat saya bilang padanya ' ngobrol yuk ' dia kan menjawab ' kalau mau ngobrol bunda bicara saja duluan '. Jawaban itu melukai saya Mbak. Seolah dia tidak butuh ngobrol dengan saya..." Banjir air mata perempuan itu makin deras . Saya ulurkan tissue dan dengan cepat diambilnya tissue itu untuk menyeka air matanya.
" Sekarang tak pernah ada lagi pelukan hangat dan ciuman mesra setiap dia akan ke kantor. Ya..hubungan biologis kami memang masih berjalan walau dengan intensitas kecil. Dia hanya mendatangi saya ketika dia butuh penyaluran biologis. Setidaknya untuk satu hal ini saya bersyukur karena dia tidak mencari penyaluran di tempat lain. Mbak..apa yang harus saya lakukan..."
Baru saja mulut saya akan membuka untuk bicara dia sudah menyahut.
"Sudahlah Mbak..saya tahu Mbak mau bicara apa. Saya harus instropeksi kan...karena porsi terbesar penyebab nya pasti saya..Iya Mbak saya sadar kok. Saya ini orangnya terlalu possesif, egois, menang sendiri. Tak ada yang bisa dibanggakan dari saya. Kerja tidak tapi urusan rumah tangga keteteran....."
Saya hanya terdiam. Perempuan itu tidak menginginkan saran saya. Dia hanya butuh didengar.
Senin, 27 Oktober 2008
Yang Tegar di Jalan Dakwah
" Bu Sumini saja.."
"Siapa yang bisa memandikan Jenazah..kasihan keluarga yang meninggal gak punya uang.."
"Ohhh Bu Sumini.."
" Kita butuh masak nih untuk korban banjir..siapa saja yang bisa ya.."
"Ke Bu Sumini saja.."
Sumini adalah sosok yang tegar dan kuat bertahan di jalan dakwah-jalan kebaikan. Padahal tubuhnya ringkih,sering sakit-sakitan dan terbelit masalah ekonomi yang tak kunjung reda. Tapi dia selalu bertahan. Ketika tak ada sepeser uang di kantong , kontribusinya di dakwah tak pernah surut. Mengisi majlis taklim, siap sedia untuk memandikan jenazah secara gratis, mobilisasi massa.
Tangannya tak pernah berhenti mengulur sampai-sampai orang mengiranya sebaga orang kaya. Ya..dia memang kaya. Kaya dengan kebajikan dan keikhlasan. Tak pernah mengeluh. Sebenarnya dia punya banyak keahlian: memasak, menjahit, berdagang tapi keterbatasan modal kadang menjadi halangan.
Anak-anaknya shalih dan shalihan dengan kecerdasan di atas rata-rata. Ada yang berminat jadi orang tua asuh ?? Atau ada yang berminat pesan catering ke beliau ?? Ayam bakarnya yummy lho..Atau ada yang ingin pasang wallpaper atau pesan karpet.suaminya adalah ahlinya..